Ancaman Penyakit Kronis Usia Muda Hantui Malaysia
Malaysia kini menghadapi ancaman krisis kesehatan serius seiring melonjaknya jumlah warga berusia muda yang menderita penyakit kronis. Fenomena yang dikenal sebagai kondisi sakit sebelum tua ini memicu kekhawatiran terhadap masa depan produktivitas nasional negara tersebut.
Masalah kesehatan seperti penyakit tidak menular (PTM), gangguan kesehatan mental, hingga obesitas dilaporkan meningkat tajam, seperti dilansir dari Detik Health. Situasi ini diprediksi kian membebani sistem layanan kesehatan publik dan jaminan sosial setempat.
Beban negara diperkirakan melonjak drastis saat memasuki era negara menua pada 2030. Pada periode tersebut, sekitar 15 persen dari total populasi Malaysia akan berusia 60 tahun ke atas.
Survei Kesehatan dan Morbiditas Nasional atau NHMS 2025 mengungkap data kesehatan warga Malaysia berusia di atas 60 tahun. Sebanyak 2 dari 3 warga di kelompok usia tersebut mengidap hipertensi, sementara 3 dari 5 orang memiliki kolesterol tinggi.
Selain itu, data survei menunjukkan 2 dari 5 warga mengalami diabetes dan 3 dari 10 orang menderita depresi. Tim peneliti menjelaskan bahwa deretan penyakit ini umumnya mulai berkembang sejak seseorang memasuki usia 40-an hingga 50-an tahun.
Pemicu Keterlambatan Deteksi Dini
Kebiasaan menunda pengobatan dan rendahnya kesadaran melakukan pemeriksaan kesehatan menjadi kendala utama. Laporan Patient Voices Malaysia: Making Healthcare Clearer and More Connected dari Economist Impact mencatat mayoritas warga menunda berobat karena faktor biaya, pekerjaan, atau prioritas keluarga.
Faktor ketakutan menjadi beban finansial bagi keluarga mendominasi alasan menunda pengobatan dengan persentase 28 persen. Alasan lain dipicu oleh komitmen pekerjaan sebesar 19 persen, serta prioritas kebutuhan anak yang mencapai 18 persen.
Kondisi ini diperparah dengan rendahnya partisipasi program deteksi dini gratis bernama PeKa Sihat dari ProtectHealth, anak perusahaan Kementerian Kesehatan Malaysia. Dari 7,1 juta warga berpenghasilan rendah yang memenuhi syarat, tercatat hanya 27 persen yang memanfaatkan fasilitas tersebut.
Lonjakan Stres dan Burnout di Tempat Kerja
Sektor kesehatan mental juga menunjukkan indikator yang mengkhawatirkan di kalangan pekerja. Berdasarkan studi Alpro Health, sebanyak 1 dari 2 pekerja di Malaysia memiliki risiko tinggi mengalami burnout akibat tekanan di tempat kerja.
Data riset mendeteksi 49 persen responden berisiko tinggi mengalami burnout. Lebih lanjut, 57 persen pekerja mengalami stres psikologis tinggi dan 46 persen merasakan tekanan fisik signifikan dalam aktivitas harian mereka.
Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan depresi dan kecemasan memicu hilangnya 12 miliar hari kerja setiap tahun. Sementara itu, laporan International Labour Organization tahun 2026 menyebutkan risiko psikososial di lingkungan kerja berkontribusi pada 840 ribu kematian per tahun dan merugikan ekonomi global sebesar 1,37 persen dari produk domestik bruto.
Dampak terhadap Demografi dan Ekonomi
Spesialis kesehatan masyarakat Fakultas Kedokteran International Islamic University Malaysia, Muhammad Adil Zainal Abidin, mengkategorikan fenomena sakit sebelum tua ini sebagai bom waktu demografis. Penurunan tingkat kesehatan pada tenaga kerja produktif dinilai mengancam struktur ekonomi negara.
Masalah ini muncul berbarengan dengan tren penurunan angka kelahiran yang memperkecil ukuran keluarga serta melemahkan sistem dukungan sosial tradisional.
"Ketika ukuran keluarga mengecil, sistem dukungan tradisional berupa anak-anak yang merawat orang tua mereka akan runtuh," kata Adil, dikutip dari New Straits Times.
"Jika generasi yang lebih kecil ini juga menghadapi masalah kesehatan atau tekanan finansial karena biaya pengobatan keluarga, produktivitas nasional dapat terpengaruh dalam skala yang lebih luas," katanya.
Adil memaparkan bahwa pemeriksaan dini untuk penyakit diabetes, hipertensi, dan jantung merupakan investasi penting bagi produktivitas negara. Langkah ini krusial demi menjaga pekerja terampil di rentang usia 45 hingga 55 tahun agar tetap mampu bekerja optimal.
"Kehilangan tenaga kerja berpengalaman yang seharusnya mentransfer pengetahuan dan keterampilan kepada generasi muda terjadi ketika pekerja terampil mengalami komplikasi seperti stroke atau membutuhkan dialisis," kata Adil.