Dokter Ingatkan Bahaya Garam dan Gula Berlebih Bagi Ginjal

Share

Kebiasaan mengonsumsi makanan bermedok bumbu berlebihan dalam jangka panjang berisiko memicu penyakit ginjal kronis akibat lonjakan tekanan darah dan gula darah, Sabtu (8/8/2026). Peringatan ini dilansir dari Detik Health menanggapi fenomena viral kuliner bersaos dan berbumbu tinggi di masyarakat.

Spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi, Prof Dr dr Endang Susalit, SpPD-KGH, FINASIM menegaskan bahwa efek samping tidak langsung muncul jika hidangan berbumbu pekat hanya dikonsumsi sesekali. Dampak buruk baru mengintai ketika asupan tersebut menjadi rutinitas harian.

"Kalau hanya sekali sebulan sih mungkin nggak terlalu pengaruh ya. Tapi kalau hampir tiap hari makan seperti itu, ya lama-lama akibat gulanya tadi diabetes, akibat garam itu bisa tensinya naik. Akibatnya itu dua-dua keadaan itu bisa menyebabkan penyakit ginjal kronik tadi," kata Prof Dr dr Endang Susalit, SpPD-KGH, FINASIM.

Endang mengidentifikasi dua zat utama yang paling sering mengganggu fungsi organ tubuh jika masuk berlebihan secara terus-menerus.

"Jadi ada zat-zat tertentu yang dalam makanan tadi, yang biasanya kita identifikasi garam sama gula biasanya. Itu yang jelas mengganggu tubuh itu pun untuk jangka panjang," jelas Prof Dr dr Endang Susalit, SpPD-KGH, FINASIM.

Masyarakat diimbau untuk menjaga frekuensi makan agar organ tubuh tidak kewalahan menampung penumpukan natrium dan glukosa.

"Kalau sekali-sekali mungkin nggak masalah, sekali-sekali dalam dua bulan, tiga bulan. Tapi kalau rutin itu terus sehingga masukkan garam dan gula tadi bertumpuk, lama-lama organ tubuh yang menerima itu nggak siap, nggak tahan. timbul penyakit baru," sambung Prof Dr dr Endang Susalit, SpPD-KGH, FINASIM.

Penambahan bumbu dalam jumlah banyak memang kerap meningkatkan cita rasa makanan secara drastis, tetapi ada konsekuensi kesehatan yang mengintai di balik kenikmatan tersebut.

"Nah jumlahnya biasanya berlebihan kalau seperti itu. Ya memang di dunia ini gitu, kalau berlebihan memang enak, tapi ya risiko yang punya jangka panjang nggak enak," ujar Prof Dr dr Endang Susalit, SpPD-KGH, FINASIM.

Pengaturan pola makan yang disiplin menjadi kunci utama untuk menjaga kesehatan organ dalam di masa depan tanpa harus memangkas total makanan kesukaan.

"Tapi kalau kita disiplin, harus susah, ya enak juga cuma sedikit aja, sekaligus itu ya sehat untuk jangka panjang," tutup Prof Dr dr Endang Susalit, SpPD-KGH, FINASIM.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author