MTI Pusat Desak Peningkatan Fasilitas Keselamatan Transportasi Laut
Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat menyoroti pentingnya penguatan sistem keselamatan transportasi laut, mulai dari pengetatan fasilitas pemeriksaan di pelabuhan hingga keandalan penyelamatan saat kecelakaan, Sabtu (8/8/2026). Pernyataan tersebut disampaikan usai insiden kebakaran kapal motor penumpang.
Ketua Dewan Pembina MTI Pusat Bambang Haryo Soekartono menegaskan fasilitas pemeriksaan pelabuhan perlu diperkuat dengan penyediaan alat X-Ray untuk menyaring penumpang dan kendaraan guna mencegah masuknya barang berbahaya. Dilansir dari Detik Finance, Bambang menyampaikan evaluasi tersebut saat meninjau korban kecelakaan di RS PHC Surabaya.
Bambang turut mengapresiasi penanganan medis serta kepastian jaminan asuransi bagi seluruh korban selamat maupun meninggal dunia.
"Saya tadi melihat, apa yang sudah dilakukan oleh Jasa Raharja dan Jasa Raharja Putra, di dalam memberikan jaminan asuransi kepada korban baik yang meninggal maupun yang di rawat ditangani dan asuransi nya di cover dengan baik," kata Bambang Haryo Soekartono, Ketua Dewan Pembina MTI Pusat.
Selain fasilitas penyaringan barang yang disetarakan dengan standar penerbangan bandara, penerapan prosedur keselamatan saat penanganan darurat di atas kapal juga dinilai memegang peranan krusial.
" Saya melihat semua KMP Mutiara Sentosa II sudah menggunakan Life Buoy ( Pelampung ) dan diarahkan ke tempat yang aman oleh Crew Kapal. Ini adalah prosedur ISM Code yang sudah dijalankan oleh Crew Kapal tersebut, seperti halnya di semua negara yang meratifikasi IMO," ujar Bambang Haryo Soekartono, Ketua Dewan Pembina MTI Pusat.
Sektor penyelamatan atau search and rescue (SAR) juga disorot agar Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) serta Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) meningkatkan kapasitas respons cepat di perairan. Dalam peristiwa kebakaran KMP Mutiara Sentosa II, sebanyak sembilan kapal niaga, kargo, dan tugboat telah bergerak membantu evakuasi 230 penumpang yang sempat terapung sekitar tiga jam sebelum tim SAR tiba.
Bambang menambahkan bahwa usia armada bukan penentu tunggal keselamatan pelayaran selama rutin menjalani perbaikan berkala dan pengujian kelaiklautan. Kapal tersebut tercatat telah menyelesaikan pemeriksaan ramp check pada Juni 2026.