Investor Asing Jual Bersih Saham BUMI Rp115 Miliar pada 25 Mei 2026
Investor asing melakukan aksi jual bersih atau net sell terhadap saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) senilai Rp115,3 miliar pada perdagangan sesi I di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari Senin (25/5/2026).
Langkah pelepasan saham oleh pemodal internasional di pasar reguler ini bertepatan dengan penurunan harga saham BUMI sebesar 4,86 persen ke level Rp176 per lembar. Berdasarkan data BEI yang dilansir dari Investor Daily melalui Stockbit Sekuritas, volume saham BUMI yang dilepas asing mencapai 649,9 juta saham.
Koreksi pada hari Senin memperpanjang tren negatif emiten pertambangan Grup Bakrie dan Salim ini yang mencatatkan penurunan 14,5 persen dalam sepekan terakhir serta akumulasi pelemahan hingga 51,9 persen selama year to date (ytd). Total transaksi keseluruhan saham BUMI di IDX mencapai volume 3,064 miliar saham dengan nilai Rp543,8 miliar.
Aksi lego saham ini melanjutkan tren dari hari perdagangan sebelumnya pada Jumat (22/5/2026), di mana asing mencatatkan net sell senilai Rp22,3 milar. Padahal, beberapa hari sebelumnya pada Rabu (20/5/2026) dan Kamis (21/5/2026), asing gencar melakukan aksi beli bersih berturut-turut senilai Rp223,4 miliar dan Rp203,8 miliar.
Pada perdagangan Kamis (21/5/2026), harga saham BUMI sempat ditutup melemah 5,2 persen ke level Rp164 per saham, dilansir dari investor.id. Pada sesi pertama hari itu, aplikasi Stockbit Sekuritas yang dilansir mediakompeten.co.id memperlihatkan adanya aksi jual bersih oleh investor domestik senilai Rp94,8 miliar.
Tekanan jual juga membayangi pergerakan pada Selasa (19/5/2026) saat harga saham tergelincir 9,71 persen (atau ditutup turun 9,22 persen ke level Rp187 menurut data visi.news), meskipun asing membukukan net buy Rp66,6 miliar. Nilai transaksi BUMI hari itu mencapai Rp1,1 triliun di tengah anjloknya IHSG lebih dari 3 persen ke level 6.396,2.
Pelemahan pasar saat itu dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap saham High Shareholding Concentration yang disorot MSCI dan FTSE Russell, serta pelemahan rupiah ke kisaran Rp17.700 per dolar AS. Penurunan harga saham juga dipengaruhi kebijakan baru pemerintah mengenai tata kelola ekspor satu pintu lewat BUMN PT Danantara Sumberdaya Indonesia yang dimulai 1 Juni 2026.
Menyikapi volatilitas tersebut, lembaga broker efek memberikan analisis teknikal terkait potensi pergerakan instrumen investasi ini.
"Meskipun volume terpantau besar, namun mempertimbangkan net foreign flow yang positif dapat mengindikasikan posisi baru bagi smart money dan membuka peluang pembalikkan arah jangka pendek," sebut Maybank Sekuritas.
Maybank Sekuritas menetapkan titik support saham BUMI pada level 167 dengan batas stoploss di bawah angka 159, serta target harga terdekat pada rentang 189-200. Sementara itu, CGS International Sekuritas Indonesia memperkirakan target harga terdekat berada pada rentang Rp194 hingga Rp203 dengan area support pada kisaran Rp151 sampai Rp168.
Dari sisi fundamental, kinerja emiten batu bara ini dinilai masih menunjukkan pertumbuhan positif berdasarkan laporan keuangan teranyar.
Perusahaan melaporkan raihan laba kuartal I-2026 sebesar US$ 28,1 juta atau tumbuh 35,2 persen, dengan pendapatan terkerek naik 19,7 persen menjadi US$ 417,7 juta yang ditopang oleh agresivitas diversifikasi bisnis multi-komoditas.