Lesperssi Kritik Wacana Pengangkatan Norman Joesoef Jadi Wamenhan
Rencana penunjukan pengusaha industri pertahanan Norman Joesoef sebagai Wakil Menteri Pertahanan pada perombakan kabinet Agustus 2026 mendapat kritikan tajam dari Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia (Lesperssi).
Peneliti Lesperssi Beni Sukadis menilai figur yang aktif di dunia bisnis pertahanan berpotensi menimbulkan benturan kepentingan serta persoalan kapasitas dalam pengelolaan birokrasi pemerintahan.
"Saya pikir mungkin ini lebih banyak negatifnya kalau saya lihat ya," kata Beni kepada Suara.com, Kamis (6/8/2026).
Beni menjelaskan bahwa pengalaman pimpinan perusahaan swasta belum tentu memadai untuk menjalankan fungsi kepemimpinan di kementerian, mengingat pengelolaan lembaga negara memerlukan pemahaman tata kelola pemerintahan dan penyusunan kebijakan strategis.
"Kalau bicara pengalaman mengelola birokrasi pertahanan ataupun menyusun kebijakan strategis di lingkungan pemerintah, saya pikir dia masih masih nol ya," ucap Beni.
Kepemilikan saham aktif di sektor industri militer juga disorot karena berpotensi besar memicu konflik kepentingan secara langsung apabila masuk ke dalam jajaran kementerian.
"Jika dia tetap menjadi pemegang saham di perusahaan tersebut, itu kan terjadi conflict of interest," tegas Beni.
Guna menghindari dampak buruk tersebut, Lesperssi menyarankan agar pemerintah memilih sosok yang memiliki latar belakang birokrasi pertahanan matang dan terbebas dari kepemilikan bisnis terkait.
"Dua alasan ini menjadi argumen bahwa ya sebaiknya ditolak saja dong. Karena kan itu tadi yang saya bilang dari dua alasan tadi, kapasitas dia mengelola birokrasi masih dipertanyakan, masih 0 persen. Kedua ya soal conflict of interest," ungkap Beni.
Konflik kepentingan itu dikhawatirkan mengganggu iklim persaingan usaha sektor industri pertahanan nasional jika kebijakan publik kemudian berpihak pada korporasi tertentu.
"Ini kan nggak baik bagi rekan-rekan atau kontraktor lain yang ada di Indonesia yang punya pengalaman lebih, punya pengalaman jam terbang lebih tinggi yang mungkin punya lebih baik dibanding dia di bidang ini industri pertahanan," tegas Beni.
Norman Joesoef sendiri merupakan pendiri sekaligus CEO Republikorp yang memfasilitasi kerja sama alutsista global seperti Drone Baykar asal Turki dan Rudal BrahMos asal India. Berlatar belakang pendidikan dari Anglo-American University dan Universitas Pertahanan RI, isu pengangkatannya sebagai pendamping Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin hingga kini belum mendapatkan konfirmasi resmi dari pihak Istana Kepresidenan.