Realitas Prosedur IVF Usia 45 Tahun Tak Semudah Bayangan Pasien

Share

Keberhasilan program in vitro fertilization atau IVF yang dirasakan sejumlah figur publik kerap memicu harapan bagi banyak pasangan. Namun, realitas medis prosedur IVF di usia 45 tahun ternyata memiliki tantangan yang sangat besar.

Akses terhadap teknologi reproduksi berbantuan memang memberi kesempatan bagi perempuan berusia di atas 40 tahun. Meski begitu, peluang untuk berhasil mendapatkan kehamilan tetap mengalami penurunan secara alami seiring bertambahnya usia.

Dilansir dari HaiBunda, deretan nama tenar seperti Anne Hathaway, Natalie Portman, Hillary Swank, Halle Berry, hingga Janet Jackson tercatat berhasil menjalani kehamilan di usia kepala empat. Fenomena tersebut kerap menjadi sumber dorongan semangat bagi para pejuang garis dua.

Pakar endokrinologi reproduksi dari CCRM Fertility of New York, Jaime Knopman, mengonfirmasi bahwa banyak pasien yang berkonsultasi usai membaca kisah sukses kehamilan para selebritas tersebut.

Namun, sebuah studi komprehensif mencatat bahwa kurang dari 3 persen perempuan yang memulai siklus IVF pada usia 45 tahun dapat melahirkan bayi hidup jika menggunakan sel telur sendiri. Memasuki usia 46 tahun, persentase tersebut terus mengalami penurunan hingga mendekati nol.

Data yang dipublikasikan dalam The Journal of Assisted Reproduction and Genetics dari penelitian Rumah Hospital Universitas Connecticut menunjukkan persentase keberhasilan penggunaan sel telur sendiri per siklus:

1. Usia 43 hingga 44 tahun: 8–10 persen per siklus.

2. Usia 45 tahun ke atas: kurang dari 5 persen per siklus.

Kondisi berbeda terlihat pada penggunaan sel telur atau embrio donor. Data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mencatat tingkat keberhasilan penggunaan donor sel telur melonjak hingga sekitar 37 persen untuk perempuan usia 43 hingga 45 tahun.

Society for Assisted Reproductive Technology juga mencatat rata-rata kelahiran hidup di usia 40 tahun menggunakan sel telur sendiri berkisar 5–20 persen per siklus.

Faktor Biologis dan Pilihan Perawatan Modern

Penurunan peluang IVF pada usia matang dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni berkurangnya cadangan ovarium dan penurunan kualitas sel telur. Peningkatan usia memicu potensi kelainan kromosom atau embrio aneuploid yang rentan mengalami kegagalan implantasi maupun risiko keguguran dini.

Guna mengoptimalkan peluang kehamilan di atas usia 40 tahun, dunia medis memiliki beberapa opsi pendekatan medis terarah:

1. Preimplantation Genetic Testing for Aneuploidy (PGT-A), yaitu metode pemeriksaan sel embrio untuk menyaring kelainan kromosom sebelum proses transfer ke rahim.

2. Optimized stimulation protocols, yaitu penyesuaian dosis obat seperti mini-IVF atau IVF siklus alami sesuai kondisi cadangan ovarium pasien.

3. Program donor sel telur, yaitu alternatif dengan tingkat keberhasilan tertinggi bagi pasien usia 43 tahun ke atas karena menggunakan sel telur dari pendonor berusia muda.

Selain penanganan konvensional, sebagian pasien juga menjajaki opsi eksperimental seperti terapi sel punca, terapi penggantian mitokondria, serta Platelet-Rich Plasma (PRP) ovarium untuk mengaktifkan kembali folikel.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author