Trump Berselisih dengan Menhan AS Soal Stok Amunisi
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan terlibat perselisihan dengan Menteri Pertahanan Pete Hegseth terkait penipisan stok amunisi akibat konflik dengan Iran, sebagaimana dilansir dari Detikcom dari laporan The Washington Post pada Kamis (6/8/2026).
Ketegangan tersebut terjadi dalam rapat kabinet di Camp David pada Jumat (31/7/2026). Trump menuntut penjelasan dari pimpinan Pentagon tersebut karena mengira permasalahan pasokan amunisi telah diselesaikan sebelumnya.
Keterbatasan persediaan rudal jarak jauh dan pertahanan udara itu disebut menjadi pemicu utama Trump membatalkan rencana serangan berskala besar terhadap Iran. Trump kemudian mengumumkan penundaan tindakan militer karena alasan kemajuan diplomasi dan permintaan negara kawasan.
Merespons teguran Presiden, Hegseth membela diri dengan menuding Wakil Menhan Stephen Feinberg yang dinilai gagal memastikan informasi pasokan sampai ke Trump. Pada bulan pertama konflik, AS dilaporkan telah menguras lebih dari 850 rudal Tomahawk, 1.000 rudal Patriot dan THAAD, serta 1.300 rudal taktis Angkatan Darat hingga stok ATACMS habis.
Laporan perselisihan pejabat tinggi tersebut langsung mendapat bantahan keras dari pihak istana kepresidenan AS.
"Ini 100 persen berita palsu. Sama sekali tidak pernah terjadi. Dan Presiden Trump sangat mempercayai Menteri Hegseth," kata Karoline Leavitt, Sekretaris Pers Gedung Putih.
Melalui saluran media sosial resminya, pihak Gedung Putih menegaskan kembali ketidakbenaran rumor perselisihan internal tersebut.
"Saya berada di Camp David bersama Presiden Trump dan Menteri Hegseth. Hal ini benar-benar tidak pernah terjadi," tegas Karoline Leavitt, Sekretaris Pers Gedung Putih.
Bantahan senada turut dikeluarkan oleh pihak Kementerian Pertahanan AS untuk menepis isu keretakan di tubuh Pentagon.
"Menteri Hegseth tidak menyesatkan siapa pun mengenai postur amunisi kita, dan beliau tidak menyalahkan Wakil Menteri Feinberg. Klaim-klaim mengenai menipisnya stok, perbedaan pendapat internal, maupun sikap Menteri terhadap Iran… semuanya sama-sama fiktif," tegas Sean Parnell, Juru Bicara Utama Pentagon.