DPR Dorong Pembukaan Pasar Protein Nasional Gaet Investasi
Indonesia berpotensi menjadi pusat produksi dan distribusi protein di Asia Tenggara berkat pasar domestik yang besar serta akses ke 745 juta penduduk regional. Langkah pembukaan pasar dinilai penting untuk menarik modal dan mempercepat modernisasi industri peternakan nasional, seperti dilansir dari Detik Finance, Kamis (6/8/2026).
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Panggah Susanto menyampaikan bahwa masuknya investasi dapat mempercepat adopsi teknologi serta meningkatkan efisiensi produksi. Kapasitas industri juga akan membesar guna memenuhi kenaikan konsumsi pangan bergizi masyarakat.
"Agar mampu menarik investasi, meningkatkan produktivitas, serta memperkuat daya saing sektor peternakan Indonesia," kata Panggah Susanto, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI.
Panggah mencontohkan perkembangan industri ayam nasional sebagai wujud keberhasilan investasi dan teknologi. Pola kemitraan antara perusahaan besar dan peternak rakyat dinilai mampu memberikan akses bibit unggul, pembiayaan, hingga kepastian pasar.
"Ini perlu dipelajari, industri ini di-drive hanya oleh dua company besar dengan investasi padat modal dan teknologi," ujar Panggah Susanto, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI.
Model kemitraan tersebut dinilai bisa diterapkan pada subsektor lain seperti sapi, kambing, dan perikanan. Pembentukan perusahaan patungan atau joint venture dengan pemain global juga membuka peluang kepemilikan saham serta keterwakilan Indonesia di jajaran direksi.
Sementara itu, kajian Prasasti Center for Policy Studies menunjukkan pentingnya ekosistem protein yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Saat ini, pengembangan subsektor protein masih berjalan sendiri-sendiri sehingga memicu kesenjangan produktivitas antarwilayah.
Integrasi rantai pasok dan investasi yang disesuaikan dengan keunggulan daerah diyakini dapat memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus memperluas peran Indonesia di pasar regional.
"Pasar kawasan yang mencakup sekitar 745 juta penduduk pun membuka peluang bagi Indonesia untuk berkembang tidak hanya sebagai pasar, tetapi juga sebagai pusat produksi dan distribusi protein di Asia Tenggara," kata Panggah Susanto, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI.