Intervensi Psikologi Positif Mampu Mendorong Produksi Kolostrum Ibu Menyusui
Regulasi emosi positif pada masa akhir kehamilan terbukti efektif meningkatkan ketahanan emosional sekaligus merangsang sekresi hormon prolaktin. Peningkatan hormon ini berperan penting dalam memproduksi kolostrum dan menjaga kelancaran ASI pascamelahirkan. Temuan ini berasal dari studi terbaru yang menguji intervensi psikologi positif pada perempuan primipara di Tiongkok.
Peneliti menerapkan metode penulisan harian berbasis aplikasi perpesanan untuk mengeksplorasi hubungan suasana hati dengan respon hormon laktasi, dilansir dari HaiBunda. Metode yang digunakan menerapkan pendekatan tiga hal baik yang diperkenalkan oleh Seligman pada 2005. Peserta diminta mencatat tiga peristiwa positif setiap malam untuk melatih regulasi emosi dan meredakan gejala depresi selama periode perinatal.
Hasil analisis Generalized Estimating Equations menunjukkan kelompok intervensi meraih skor ketahanan psikologis sebesar 15,55. Angka ini secara signifikan lebih tinggi dibanding kelompok kontrol yang mencatatkan skor 15,01.
Pengukuran kadar hormon pascamelahirkan menunjukkan perbedaan signifikan pada tingkat prolaktin antar kelompok. Prolaktin merupakan hormon protein dari kelenjar pituitari anterior yang bertugas merangsang serta mempertahankan proses laktasi. Namun, studi ini mencatat kadar insulin-like growth factor-1 atau IGF-1 tidak mengalami perubahan signifikan. Perilaku menyusui langsung di rumah sakit juga belum menunjukkan perbedaan besar antar kedua kelompok.
Penerapan psikologi positif prenatal menjadi pendekatan baru dalam mendukung program laktasi. Sebagian besar intervensi sebelumnya lebih banyak berfokus pada pemberian edukasi atau penanganan tekanan psikologis pascapersalinan. Organisasi Kesehatan Dunia merekomendasikan pemberian ASI eksklusif sejak bayi lahir hingga berusia enam bulan. Praktik ini disarankan berlanjut mendampingi makanan pendamping ASI sampai anak berusia dua tahun atau lebih.
ASI mengandung nutrisi seimbang, mikrobiota, dan komponen aktif biologis yang memperkuat sistem kekebalan tubuh anak. Bayi yang mendapatkan ASI tercatat memiliki risiko kesakitan dan tingkat kematian yang lebih rendah dibanding bayi yang mengonsumsi susu formula. Sikap positif terhadap proses laktasi menjadi prediktor kuat yang meningkatkan inisiasi menyusui hingga 30 persen.
Sebaliknya, gangguan stres emosional dan kecemasan prenatal dapat menurunkan nafsu makan serta mengganggu status nutrisi ibu. Penelitian ini memiliki batasan karena tidak mengukur kadar oksitosin dalam serum darah akibat keterbatasan teknis. Selain itu, pengamatan perilaku menyusui baru dilakukan selama masa rawat inap di rumah sakit tanpa pemantauan jangka panjang.