Pakar Kesehatan Imbau Korban Gigitan Ular Hindari Metode Sedot Luka
Dokter spesialis emergensi dan toksinologi Dr. dr. Tri Maharani M.Si., Sp.Em., Sub.Sp.Tok(K) mengingatkan wisatawan agar tidak mengisap luka atau mengikat bagian tubuh yang terkena gigitan ular saat beraktivitas di alam bebas. Himbauan tersebut disampaikan kepada Detik Travel pada Selasa (4/8/2026) mengingat kebiasaan menyedot luka yang marak di masyarakat justru berisiko memperburuk kondisi korban.
Metode penanganan konvensional seperti menyayat luka atau mengeluarkan darah dinilai tidak efektif karena jalur penyebaran bisa ular tidak melalui pembuluh darah.
"Jangan disedot, jangan disayat, jangan dikeluarkan darahnya. Karena bisa ular itu masuk melalui sistem getah bening, bukan lewat pembuluh darah," kata Maha.
Penyebaran racun ular yang terjadi lewat sistem limfatik membuat tindakan mengisap luka tidak dapat membuang racun dari tubuh. Pergerakan fisik yang berlebihan dari korban justru dapat mengakibatkan racun menyebar lebih cepat ke organ lainnya.
Maha mengimbau agar setiap kasus serangan ular langsung diperlakukan sebagai situasi darurat medis. Langkah identifikasi jenis ular oleh awam dinilai berisiko tinggi karena banyaknya spesies ular di Indonesia.
"Indonesia punya sekitar 300 jenis ular yang tidak berbisa dan sekitar 180 jenis ular berbisa. Kita tidak mungkin mempelajarinya satu per satu," kata dia.
Untuk mengantisipasi risiko bahaya yang tidak pasti, penanganan cepat menuju fasilitas medis menjadi hal yang paling krusial.
"Anggap saja semua ular berbisa. Yang paling penting adalah segera melakukan pertolongan pertama dan menuju fasilitas kesehatan," katanya.
Prosedur pertolongan pertama yang direkomendasikan adalah imobilisasi untuk membatasi pergerakan area tubuh yang tergigit. Bagian tubuh korban harus dipertahankan dalam posisi diam dan dipasang bidai sederhana sebelum dievakuasi.
"First aid yang benar adalah imobilisasi, kemudian segera ke fasilitas kesehatan," ujar Maha.
Korban gigitan juga dilarang berlari atau berjalan jauh guna mencegah efisiensi pergerakan otot memicu akselerasi penyebaran racun. Di samping itu, wisatawan diminta tidak melakukan aksi konfrontasi jika menjumpai ular di alam liar.
"Jangan konfrontasi dengan ular. Ular itu menggigit untuk mempertahankan dirinya ketika merasa terancam," kata dia.
Langkah terbaik saat berhadapan dengan ular di jalur wisata adalah membiarkan hewan tersebut melintas tanpa memicu ancaman.
"Jika menemukan ular di jalur pendakian atau lokasi wisata, langkah paling aman adalah menjaga jarak dan memberi ruang agar satwa tersebut pergi dengan sendirinya," dia menegaskan.