Pakar UGM Jelaskan Alasan Kobra Jawa Telan Pisau Dapur di Karanganyar
Pakar satwa liar dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menilai aksi seekor ular kobra yang menelan pisau dapur di Desa Sroyo, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah disebabkan oleh kesalahan identifikasi mangsa akibat aroma daging yang tertinggal.
Ular kobra Jawa tersebut dievakuasi relawan Exalos Indonesia pada Selasa (4/8) dalam kondisi masih hidup, seperti dilansir dari Detikcom. Dosen Fakultas Biologi UGM Donan Satria Yudha meluruskan dugaan bahwa aksi ekstrem reptil tersebut dipicu oleh tingkat stres.
"Saya melihatnya bukan stres. Pisau dapur itu kan digunakan untuk memotong daging dan sebagainya, sehingga masih ada aroma yang tertinggal. Ular itu kan penglihatannya buruk, sehingga fokus menggunakan aroma," kata Donan Satria Yudha, Dosen dan Pemerhati Satwa Liar Fakultas Biologi UGM.
Pakar biologi tersebut menambahkan bahwa struktur anatomi mulut kobra membuat benda keras yang sudah terlanjur masuk tidak bisa dikeluarkannya kembali secara mandiri.
"Karena ada aroma daging, atau darah, dia memakan pisau itu. Itu menurut saya dari sudut pandang biologi. Kalau stres makan pisau, sepertinya tidak. Otak ular kan kecil banget, sehingga pikiran stres menurut saya kurang tepat," kata Donan Satria Yudha, Dosen dan Pemerhati Satwa Liar Fakultas Biologi UGM.
Hambatan fisik tersebut membuat peralatan dapur itu terus terdorong masuk ke dalam organ pencernaan ular.
"Mau dimuntahkan tidak bisa, karena giginya melengkung ke belakang, sehingga tidak bisa memuntahkan. Sehingga tertelan terus," kata Donan Satria Yudha, Dosen dan Pemerhati Satwa Liar Fakultas Biologi UGM.
Meskipun organ Jacobson milik reptil tersebut berfungsi normal untuk melacak bau, keterbatasan daya pandang membuatnya gagal mengenali objek berbahaya tersebut.
"Salah mendeteksi, karena pisaunya bekas terkena daging," kata Donan Satria Yudha, Dosen dan Pemerhati Satwa Liar Fakultas Biologi UGM.
Meski membantah stres sebagai pemicu dalam kasus pisau ini, Donan mengonfirmasi bahwa ular tetap bisa mengalami tekanan psikologis akibat gangguan lingkungan, perubahan habitat, atau interaksi manusia. Gejalanya meliputi perubahan perilaku seperti meringkuk, menggesekkan tubuh ke permukaan keras, hingga menjadi lebih agresif.
"Ciri-ciri ular stres meringkuk, atau gesek-gesekkan badan ke substrat keras berulang-ulang, kadang mudah marah dan mendesis," kata Donan Satria Yudha, Dosen dan Pemerhati Satwa Liar Fakultas Biologi UGM.