Dokter dan organisasi medis sebut kandungan skincare berisiko saat hamil
HaiBunda melaporkan dokter kulit dan organisasi medis menilai beberapa kandungan skincare berpotensi berisiko bagi janin, sehingga perlu dihindari selama hamil. Panduan juga mencantumkan bahan yang umumnya dianggap aman dan cara memilih produk dengan lebih teliti.
Menurut American Academy of Dermatology (AAD), perubahan kulit selama kehamilan umum terjadi sehingga rutinitas skincare mungkin perlu disesuaikan agar lebih aman sesuai kondisi. Dokter spesialis kulit bersertifikat menyebut kehamilan sering menjadi momen pertama saat orang benar-benar memperhatikan kandungan produk yang dipakai.
HaiBunda menulis bahwa sejumlah bahan aktif dapat terserap melalui kulit. Meski jumlah yang masuk ke tubuh biasanya kecil, beberapa kandungan tertentu mendapat perhatian khusus karena berkaitan dengan risiko pada janin.
Heather Rogers, MD, FAAD mengatakan masa kehamilan sering kali menjadi pertama kalinya seseorang benar-benar memperhatikan kandungan dari produk yang digunakan pada kulit, dan dokter spesialis kulit dapat memberikan panduan yang tepat.
HaiBunda mengutip Healthline bahwa 10 kandungan skincare yang tidak boleh untuk ibu hamil meliputi retinoid, asam salisilat (salicylic acid), hydroquinone, phthalates, formaldehyde, oxybenzone, methylparaben, propylparaben, finasteride, dan benzoyl peroxide.
HaiBunda menjelaskan retinoid kerap dihindari selama kehamilan, termasuk produk obat resep dengan dosis lebih tinggi. Penggunaan retinoid dosis tinggi dikaitkan dengan risiko kelainan bawaan pada bayi.
HaiBunda menyebut asam salisilat dilaporkan aman dalam dosis rendah untuk pemakaian topikal, namun produk dengan dosis tinggi seperti chemical peel dan obat minum sebaiknya dihindari menurut rujukan Healthline dan ACOG.
HaiBunda menulis hydroquinone merupakan obat resep untuk mencerahkan kulit atau mengurangi pigmentasi seperti melasma dan kloasma. HaiBunda menyebut tubuh dapat menyerap hydroquinone dalam jumlah besar sekitar 35–45%, sehingga paparan sebaiknya dibatasi atau dihindari.
HaiBunda melaporkan phthalates sebagai endocrine-disrupting chemicals yang dapat memengaruhi kesehatan reproduksi sejak masa perkembangan janin. HaiBunda juga menyebut diethylphthalate (DEP) sebagai jenis yang paling umum ditemukan.
HaiBunda mengutip CDC bahwa paparan formaldehyde dapat meningkatkan risiko gangguan kesuburan dan keguguran. HaiBunda juga menyebut bahan kimia pelepas formaldehyde masih ditemukan pada produk kosmetik.
HaiBunda menjelaskan oxybenzone yang merupakan filter UV menghadapi kekhawatiran karena diduga pengganggu hormon. HaiBunda menyebut penelitian pada hewan 2018 menemukan perubahan permanen pada kelenjar payudara dan proses menyusui pada paparan setara penggunaan manusia.
HaiBunda mengutip sumber laboratorium bahwa paraben termasuk methylparaben dapat memiliki aktivitas mirip estrogen dalam kadar tertentu, namun efek pada manusia tidak selalu sama dengan temuan riset lab. HaiBunda juga menulis propylparaben sering dipakai sebagai pengawet dan hingga saat ini bukti gangguan kehamilan pada manusia masih terbatas.
HaiBunda mengutip NCBI bahwa finasteride menghambat enzim 5-alpha reductase yang mengubah testosteron menjadi DHT. HaiBunda menulis finasteride tidak dianjurkan untuk ibu hamil karena berpotensi mengganggu perkembangan organ reproduksi pada janin laki-laki.
HaiBunda menulis benzoyl peroxide biasa ditemukan pada obat jerawat. HaiBunda melaporkan AAD dan ACOG mengatakan kandungan ini kemungkinan aman jika digunakan dalam jumlah terbatas.
Selain itu, HaiBunda merinci 10 kandungan skincare yang boleh untuk ibu hamil menurut AAD, yakni hyaluronic acid, vitamin C, azelaic acid, glycolic acid, lactic acid, ceramide, zinc oxide, titanium dioxide, niacinamide, serta panthenol atau provitamin B5.
HaiBunda menulis AAD merekomendasikan sunscreen broad-spectrum dengan SPF minimal 30, dan dokter kulit sering menyarankan sunscreen fisik (mineral) yang mengandung zinc oxide serta titanium dioxide untuk mengurangi iritasi.