CEO Shift Up Tanggapi Kritik Penggunaan AI Video Musik Stellar Blade
CEO Shift Up Kim Hyung Tae memberikan klarifikasi mengenai penggunaan teknologi kecerdasan buatan atau AI dalam video musik Stellar Blade Blood Rain pada Jumat, 31 Juli 2026. Tanggapan tersebut disampaikan usai video musik buatan pengembang game asal Korea Selatan itu mendapat kritik tajam dari para gamer, sebagaimana dilansir dari Gamebrott.
Kritik dari komunitas gamer muncul karena pembuatan video musik tersebut mengandalkan teknologi AI-Generated ketimbang memanfaatkan karya seni buatan tangan dari para seniman artistik. Lewat media sosial X, Kim Hyung Tae menjelaskan bahwa desain karakter utama bernama EVIE dikerjakan oleh tim internal selama lebih dari satu tahun.
Ia juga menegaskan bahwa AI tidak menciptakan karakter tersebut dari awal, melainkan hanya membantu proses pemrosesan akhir. AI digunakan untuk melakukan rendering dan menampilkan karakter EVIE berdasarkan data serta hasil keahlian tim pengembang.
"EVIE, karakter utama dalam video ini dibuat dari atas sampai bawah oleh para Artist dan Modeler berbakat di tim kami lewat kerja keras mereka selama lebih dari 1 tahun. AI tidak membuatnya dari nol. AI hanya melakukan rendering dan menampilkan karakter tersebut berdasarkan data, desain, serta hasil keahlian yang diciptakan oleh tim kami. Kami akan sangat menghargai jika kalian dapat melihat karya ini dengan pemahaman tersebut," kata Kim Hyung Tae, CEO Shift Up.
Meskipun penjelasan telah diberikan oleh pihak CEO, sejumlah gamer tetap menyampaikan ketidakpuasan mereka terhadap keputusan penggunaan teknologi AI tersebut. Pengguna media sosial mempertanyakan alasan perusahaan yang memilih menggunakan AI ketimbang memberdayakan potensi seniman di studio internal mereka.
"Bisakah Anda menjelaskan apa perlunya menggunakan AI untuk ini daripada menggunakan seniman bertalenta di studio? Baik animasi maupun lagu di video ini bisa 100% dibuat oleh seniman tanpa harus bergantung pada hasil AI," ujar SHIRO, pengguna akun media sosial X.
Selain mempertanyakan efisiensi dan kualitas, tanggapan keras lain dari komunitas gamer juga menyoroti nilai estetika dan kreativitas dari karya buatan AI yang dinilai tidak sebanding dengan hasil karya animator manusia.
"Kalian memiliki animator. Gunakan mereka. Kalian tidak memvalidasi karya yang telah mereka buat dengan bayangan murah tanpa jiwa ini. Kalian adalah parasit di mata semangat manusia dan tidak memahami nilai dari jiwa kreativitas," kata BigGuts, pengguna akun media sosial X.