Danantara Alokasikan Dana Investasi ke Hedge Fund dan Proyek Energi
Lembaga pengelola investasi Indonesia, Danantara, bersiap menyalurkan alokasi dana pertamanya kepada para manajer hedge fund pada semester kedua tahun ini. Langkah diversifikasi portofolio tersebut berjalan seiring dengan penetapan mitra asing untuk proyek pengolahan sampah menjadi energi di tanah air.
Melalui unit investasinya, Danantara merencanakan pembentukan akun terpisah dengan nilai minimal 250 juta dolar AS per manajer. Manajemen menargetkan penyaluran tahap awal kepada tiga hingga empat manajer investasi guna menjaga fokus portofolio.
Chief Investment Officer Danantara Pandu Sjahrir mengungkapkan bahwa alokasi dana rata-rata diperkirakan mencapai 500 juta dolar AS per manajer.
"Rata-rata, saya pikir 500 juta dolar AS per manajer," kata Pandu Sjahrir, Chief Investment Officer Danantara.
Ia menambahkan bahwa konsentrasi alokasi pada sedikit pengelola modal menjadi pilihan strategis lembaga saat ini.
"Lebih baik fokus terconcentrate," kata Pandu Sjahrir, Chief Investment Officer Danantara.
Selain menyasar instrumen hedge fund, Danantara memperluas jangkauan operasionalnya ke kawasan Eropa dengan rencana pembentukan kantor perwakilan dalam 12 bulan ke depan. Lembaga ini juga menjejaki peluang perdagangan komoditas utama melalui unit Danantara Sumberdaya Indonesia di London Metal Exchange.
Mengenai alokasi pada sektor teknologi, Danantara mengakui bahwa porsi investasi di bidang kecerdasan buatan masih terbilang kecil.
"Kami sangat underweight di kecerdasan buatan," kata Pandu Sjahrir, Chief Investment Officer Danantara.
Namun, pihak manajemen menilai keputusan tersebut cukup tepat untuk menjaga profil risiko portofolio.
"Kami mungkin melewatkan tren tahun ini, tetapi saya pikir ini mungkin langkah yang benar," kata Pandu Sjahrir, Chief Investment Officer Danantara.
Dari target penempatan dana sekitar 200 triliun rupiah pada tahun ini, pencapaian Danantara telah mendekati setengahnya. Laporan audit publik pertama lembaga pengelola aset negara ini dijadwalkan terbit pada September atau Oktober mendatang.
Pandu turut menegaskan bahwa kondisi keamanan dalam negeri menjadi daya tarik utama bagi para investor global di tengah ketidakpastian geopolitik kawasan lain.
"Modal selalu bergerak ke tempat yang merasa paling aman," kata Pandu Sjahrir, Chief Investment Officer Danantara.
Ia juga menyampaikan respons positif dari para pengelola modal internasional terhadap iklim investasi nasional.
"Pengelola modal global besar mengatakan sekarang adalah waktu terbaik untuk berinvestasi di Indonesia. Dan berada jauh dari konflik perang adalah peluang besar bagi kami," kata Pandu Sjahrir, Chief Investment Officer Danantara.
Di sektor riil dan energi bersih, anak perusahaan Danantara bersama PT Daya Energi Bersih Nusantara telah merampungkan seleksi tahap kedua untuk proyek Waste-to-Energy (WtE). Perusahaan teknologi asal China, SUS ENVIRONMENT, terpilih menggarap dua proyek pengolahan sampah menjadi energi di Indonesia.
Proyek tersebut mencakup pengolahan sampah di Lampung Raya bekerja sama dengan PT Indoplas Dewata Energi, serta wilayah Surabaya Raya bersama konsorsium PT Bakrie Power dan PT Akritas Karya Persada. Penunjukan ini dilakukan setelah menyisihkan puluhan peserta dalam proses seleksi kompetitif.