Siswi di Banyuwangi Mundur dari Sekolah Usai Video Asusila Beredar
Seorang siswi madrasah di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, resmi mengundurkan diri dari sekolahnya sejak 21 Juli 2026 setelah video asusila yang dikaitkan dengan dirinya beredar luas di media sosial digital.
Langkah pengunduran diri tersebut diambil oleh pihak keluarga korban setelah melalui proses mediasi dan diskusi mendalam bersama tim Bimbingan Konseling (BK) pihak madrasah.
Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Banyuwangi, Chaironi Hidayat, mengonfirmasi bahwa permohonan pengunduran diri tersebut diajukan secara resmi oleh orang tua siswi yang bersangkutan.
"Dari hasil mediasi dan pertimbangan mendalam bersama tim BK, orang tua terduga akhirnya memutuskan untuk mengajukan surat pengunduran diri bagi anaknya dari madrasah. Langkah ini diambil atas pertimbangan menjaga kondisi psikologis siswa yang bersangkutan serta demi menjaga kondusivitas lingkungan belajar di madrasah," kata Chaironi, dilansir dari VIVA.
Permohonan tersebut disetujui pihak madrasah pada hari yang sama sekitar pukul 12.00 WIB untuk menghindar perundungan serta meminimalkan tekanan mental pada siswi tersebut.
Laporan pertama mengenai rekaman video yang beredar itu diterima oleh pihak sekolah pada 19 Juli 2026 sekitar pukul 20.00 WIB. Kemenag Banyuwangi menegaskan bahwa insiden dalam video berlangsung di luar lingkungan serta di luar jam pengawasan sekolah.
Masyarakat diimbau untuk membatasi penyebaran rekaman dan tidak membagikan ulang konten digital tersebut di platform media sosial guna melindungi masa depan anak di bawah umur.
"Pihak madrasah beserta Kemenag Banyuwangi berharap masyarakat dapat menyikapi peristiwa ini secara bijak serta membatasi penyebaran ulang konten video demi melindungi masa depan dan kondisi psikologis anak di bawah umur," kata Chaironi.
Di sisi lain, seorang remaja laki-laki yang diduga terlibat dan berstatus sebagai pelajar di Kecamatan Genteng, Banyuwangi, mengunggah video klarifikasi untuk meminta maaf atas kegaduhan yang terjadi.
"Saya minta maaf karena telah membuat jelek nama sekolah. Saya meminta maaf kepada semua teman-teman dan semuanya karena telah melakukan perbuatan yang jadi bahan perbincangan hangat di kalangan semua orang," kata remaja laki-laki tersebut dalam rekaman video.
Ia menegaskan bahwa tindakan klarifikasi dan permohonan maaf itu ia lakukan secara sadar tanpa adanya paksaan dari pihak mana pun.
"Permintaan maaf ini tidak ada paksaan dari pihak manapun," kata remaja laki-laki tersebut.
Peredaran rekaman yang dikenal dengan sebutan "Yang Wes Yang" di media sosial tersebut kini menjadi perhatian publik terkait perlindungan identitas anak di bawah umur.