Kritik Stephen Roach Soal Masa Depan Hong Kong Memicu Perdebatan
Pernyataan mantan Chairman Morgan Stanley Asia Stephen Roach yang menyebut masa lalu Hong Kong telah berakhir memicu perdebatan sengit mengenai status kawasan tersebut sebagai pusat keuangan internasional. Roach menilai penegakan Undang-Undang Keamanan Nasional 2020 dan Pasal 23 pada 2024 telah mengintegrasikan kerangka keamanan nasional China ke dalam sistem hukum Hong Kong. Langkah tersebut dinilai mengikis independensi hukum dan kebebasan sipil di kota tersebut.
Perubahan ini membuat Hong Kong kini lebih tepat disebut Xianggang. Ia menyoroti dominasi perusahaan asal China daratan dalam aktivitas penawaran umum perdana atau IPO serta eksodus tenaga kerja asing yang digantikan oleh pekerja dari daratan utama.
Pelaksana Tugas Sekretaris Keuangan Hong Kong Michael Wong Wai-Lun menilai kritik yang disampaikan Roach lebih didasari oleh prasangka anti-Beijing ketimbang analisis objektif. Kritik tersebut dianggap mengabaikan ketahanan luar biasa yang dimiliki oleh Hong Kong.
Ia menegaskan bahwa pandangan skeptis tersebut bertujuan untuk meruntuhkan prospek ekonomi kawasan. Pemerintah menilai status Hong Kong sebagai satu-satunya yurisdiksi common law di China tetap menjadi pintu gerbang utama ke pasar global. Di sisi lain, indeks hukum World Justice Project 2025 menempatkan Hong Kong di peringkat ke-24 dari 143 yurisdiksi, berada di atas Amerika Serikat yang menempati posisi ke-27. Selain itu, penunjukan hakim-hakim asing baru di Court of Final Appeal menjadi bukti independensi peradilan yang tetap terjaga.
Secara historis, fungsi utama Hong Kong adalah menjadi jembatan ekonomi antara China daratan dan dunia luar. Perkembangan pasar keuangan saat ini mencerminkan evolusi kawasan dalam menyesuaikan diri dengan pergeseran geopolitik dan kekuatan ekonomi global.