Sofi Aulia Syarifa Anak Buruh Harian Purworejo Diterima di FMIPA ITB

Share

Sofi Aulia Syarifa (19), putri seorang buruh harian lepas asal Purworejo, resmi menjadi mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Institut Teknologi Bandung (ITB) usai lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026.

Anak kedua dari enam bersaudara ini mengikuti Sidang Terbuka Penerimaan Mahasiswa Baru di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Bandung, pada Rabu (5/8/2026). Keberhasilannya menembus kampus ternama tersebut dicapai setelah ia menempuh pendidikan di SMA Plus CT ARSA Sukoharjo, Jawa Tengah.

Kondisi perekonomian keluarga Sofi sebelumnya terbilang sangat terbatas akibat pekerjaan sang ayah yang serabutan. Ayahnya harus berganti profesi mulai dari kuli bangunan, pekerja di Kalimantan, hingga penyedia jasa pijat di pasar malam demi memenuhi kebutuhan hidup harian.

"Yang bekerja hanya ayah saya sebagai buruh harian lepas. Kadang jadi kuli bangunan, sempat kerja di Kalimantan, pernah juga buka jasa pijat di pasar malam dan jaga stan mainan. Kadang memang tidak bisa kirim uang ke rumah," kata Sofi, alumni SMA Plus CT ARSA Sukoharjo.

Pendidikan tinggi sempat dianggap sebagai hal yang sulit terjangkau oleh keluarga Sofi karena fokus utama mereka adalah memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

"Dulu kami merasa melanjutkan sekolah itu sesuatu yang mustahil. Bahkan untuk melanjutkan hidup saja, biaya makan kadang masih susah," ujar Sofi, putri buruh harian asal Purworejo.

Perubahan besar terjadi saat Sofi berkesempatan melanjutkan jenjang pendidikan di SMA Plus CT ARSA Sukoharjo, tempat seluruh biaya sekolah dan asramanya ditanggung secara penuh.

"Saya merasa sangat amat bersyukur dan merasa terbantu banget," kata Sofi, mahasiswa baru FMIPA ITB.

Fasilitas serta dorongan semangat yang diberikan di sekolah tersebut membuka jalan bagi Sofi dan rekan-rekannya untuk berani mematok target tinggi ke perguruan tinggi negeri.

"Karena adanya Bunda (Anita Tanjung-Founder CT ARSA Foundation) dan tim CT ARSA, kami bisa merasakan fasilitas pendidikan yang sangat berkualitas. Dari situ kami jadi berani bermimpi dan akhirnya bisa masuk ke perguruan tinggi yang kami inginkan," tutur Sofi, peraih juara kompetisi astronomi tingkat provinsi.

Lingkungan belajar di asrama juga membentuk kultur saling bantu antar sesama siswa yang belum menguasai materi pelajaran tertentu.

"Selama sekolah di CT ARSA benar-benar dididik bukan hanya untuk berprestasi, tetapi juga punya etika yang baik. Kalau kita sudah paham pelajaran sementara teman belum paham, kita diminta mengajari," kata Sofi, pendaftar jalur SNBT ITB.

Dukungan para pengajar di sekolah tersebut terwujud melalui pemberian jam belajar tambahan di luar jam reguler hingga sore hari.

"Bahkan kalau kita belum mengerti pelajaran, guru bersedia ngasih jam tambahan. Itu sering banget, bahkan sampai magrib. Saya sangat salut terhadap guru-guru CT ARSA," ujar Sofi, mantan peserta OPSI.

Pola pembelajaran mandiri dan kolaboratif membuat capaian prestasi para murid berkembang secara merata.

"CT ARSA kan memang dikenal dengan prestasi yang cukup merata di kalangan murid-muridnya, karena lingkungannya sangat suportif," kata Sofi, alumni SMA Plus CT ARSA.

Pihak sekolah turut memastikan kesiapan finansial setiap alumni dalam melanjutkan studi ke jenjang tinggi melalui pendataan bantuan pendidikan.

"Guru-guru luar biasa memenuhi kebutuhan kami. Kebutuhan di asrama, kebutuhan sekolah, semuanya diperhatikan. Bahkan saat mau masuk perguruan tinggi kami didata satu per satu, sudah dapat beasiswa atau belum. Tidak ada satu pun anak yang merasa diabaikan," tutur Sofi, mahasiswa FMIPA ITB.

Selama menempuh pendidikan menengah, Sofi aktif mengukir prestasi, seperti meraih juara dua ajang olimpiade astronomi tingkat kabupaten dan provinsi, hingga menembus jajaran top 100 nasional.

"Di tahun pertama dapat juara 2 tingkat kabupaten. Di tahun kedua, alhamdulillah tingkat kabupaten masih juara 2, tapi di tingkat provinsi juga dapat juara 2 hingga masuk top 100 nasional," kata Sofi, peraih juara empat STEM Kihajar tingkat provinsi.

Sofi juga sempat melatih kemampuan analisisnya melalui ajang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI).

"Meskipun belum dapat medali nasional, itu pengalaman yang luar biasa buat saya. Dari setiap lomba selalu ada pelajaran yang bisa diambil," ujar Sofi, mahasiswa asal Purworejo.

Kebiasaan berpikir kritis yang ditanamkan gurunya berbuah tawaran beasiswa penuh saat ia memberanikan diri mengajukan pertanyaan dalam sesi seminar di Universitas Pembangunan Nasional Veteran.

"Waktu itu di CT ARSA kami memang dilatih untuk banyak bertanya. Jadi saya memberanikan diri bertanya di depan banyak orang," kata Sofi, lulusan SMA Plus CT ARSA.

Keberanian tersebut menarik perhatian salah seorang peserta seminar yang kemudian berkomitmen mendanai seluruh perkuliahan Sofi.

"Alhamdulillah di sana ada hamba Allah yang menawarkan beasiswa penuh selama kuliah. Beliau langsung bertanya saya mau kuliah di mana dan menawarkan untuk membiayai kuliah saya," tutur Sofi, alumni CT ARSA.

Keberhasilan Sofi berkuliah di perguruan tinggi menyusul jejak sang kakak yang telah lebih dulu menempuh pendidikan tinggi melalui program beasiswa mitra yayasan tersebut.

"Kakak pertama saya juga alumni CT ARSA. Beliau bisa berkuliah lewat beasiswa penuh dari mitra CT ARSA di Prasetya Mulya Tangerang," kata Sofi, mahasiswa FMIPA ITB.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: beasiswa ITB Pendidikan Purworejo
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author