Pakar Ungkap Stereotip Anak Tunggal Manja dan Kesepian Tak Terbukti

Share

Stereotip mengenai anak tunggal yang dinilai manja, egois, hingga mudah merasa kesepian telah bertahan selama beberapa generasi. Label ini muncul karena anggapan bahwa anak semata wayang tidak memiliki saudara kandung dan mendapat pengasuhan terpusat dari orang tua.

Pandangan negatif tersebut tidak sepenuhnya akurat. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa tidak ada satu pun tipe kepribadian tunggal yang secara otomatis melekat pada anak tanpa saudara kandung.

Dilansir dari HaiBunda, psikiater dewasa Dr. Allen Masry menegaskan kesalahan terbesar masyarakat adalah menggeneralisasi kepribadian anak tunggal dalam satu kelompok yang sama.

"Penelitian tidak menunjukkan bahwa anak tunggal pada dasarnya kesepian, manja, atau kurang mampu bersosialisasi," kata Dr. Allen Masry kepada Newsweek.

Menurut Masry, pembentukan karakter anak lebih dipengaruhi oleh pola pengasuhan, hubungan keluarga, serta pengalaman hidup secara menyeluruh, bukan sekadar keberadaan saudara kandung.

Pendapat senada disampaikan oleh psikolog Rachel Loftin. Ia menyebutkan anak tunggal terbukti memiliki kemampuan bersosialisasi yang baik dan tumbuh dengan sehat secara psikologis.

"Penelitian secara konsisten menemukan bahwa anak tunggal umumnya sehat secara psikologis, kompeten secara sosial, dan mampu beradaptasi dengan baik seperti orang yang tumbuh bersama saudara kandung," ungkap Rachel Loftin.

Anak tunggal sering kali dianggap memiliki kepribadian seperti orang dewasa karena intensitas interaksi yang tinggi dengan orang tua. Kondisi ini membuat mereka lebih nyaman berkomunikasi dengan orang yang lebih tua dan menguasai kosakata lebih luas sejak dini.

Psikolog klinis Dr. Liz Nissim menjelaskan bahwa anak tunggal yang dibesarkan dalam suasana rumah yang tenang mungkin menganggap dinamika kelompok yang riuh sebagai hal yang menguras energi. Hal ini membuat mereka lebih memilih menjalin hubungan dekat dengan orang yang lebih tua.

Kecenderungan tersebut merupakan bentuk preferensi personal dalam berinteraksi, bukan sebuah kekurangan dalam kemampuan bersosialisasi.

Sederet Mitil Mitos Stereotip Anak Tunggal

Beberapa riset ilmiah berhasil mematahkan stereotip umum terkait perkembangan anak tunggal.

1. Ketergantungan dan Sifat Manja

Anggapan bahwa anak tunggal pasti manja berakar dari pandangan psikolog G. Stanley Hall pada akhir tahun 1800-an. Namun, analisis terhadap hampir 200 studi oleh psikolog Dr. Toni Falbo menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan dalam sifat egois atau ketergantungan antara anak tunggal dan anak dari keluarga besar.

2. Risiko Rasa Kesepian

Riset yang dipublikasikan dalam The American Journal of Orthopsychiatry tahun 2021 menemukan anak tunggal justru melaporkan tingkat kesepian yang lebih rendah. Ikatan emosional dan perhatian penuh dari orang tua menjadi faktor utama yang meminimalisasi perasaan terisolasi.

3. Kemampuan Bersosialisasi

Ulasan dari American Psychological Association (APA) mengungkapkan penyesuaian sosial anak tunggal sama baiknya dengan anak yang memiliki saudara kandung. Keterampilan berinteraksi tidak hanya dipelajari di rumah, tetapi juga berkembang melalui lingkungan sekolah dan area bermain.

4. Hubungan dengan Orang Tua

Meskipun anak tunggal kerap memiliki hubungan yang lebih intens dengan orang tua karena tidak perlu berbagi perhatian, APA mencatat bahwa ukuran keluarga tidak menentukan kualitas hubungan. Pola pengasuhan yang hangat serta responsif tetap menjadi faktor penentu utama.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author