Kesepakatan Selat Hormuz Berpotensi Tercapai Pekan Ini

Share

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz berpotensi tercapai pada Rabu atau Kamis pekan ini. Langkah diplomasi yang melibatkan Iran dan Oman tersebut diharapkan mampu memulihkan jalur pelayaran vital sekaligus mengakhiri konflik kawasan, seperti dilansir dari Detikcom.

Sinyal positif perundingan langsung memberikan dampak pada pasar energi global. Harga minyak mentah jenis Brent mengalami penurunan sebesar 1,2 persen menjadi US$78,43 per barel akibat menguatnya optimisme lalu lintas tanker minyak di Teluk Persia.

Rancangan kesepakatan mengatur mekanisme skema pelayaran aman, di mana kapal masuk Teluk Persia melalui wilayah kendali Iran dan keluar lewat jalur Oman dengan dikenakan biaya layanan keamanan. Setiap poin kesepakatan akhir tersebut diyakini berkaitan erat dengan rencana pencabutan blokade pelabuhan Iran oleh Amerika Serikat.

Donald Trump menyampaikan optimistis saat memberikan keterangan kepada wartawan di California terkait perkembangan negosiasi maritim tersebut.

"Bisa saja terjadi. Besok atau lusa," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Trump membeberkan bahwa dialog mengenai situasi keamanan perairan terus berjalan dan telah mencatatkan sejumlah kemajuan signifikan.

"Banyak kemajuan telah dicapai," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Meskipun demikian, Trump secara tegas menolak gagasan pemungutan tarif terhadap kapal-kapal yang melintas di kawasan internasional tersebut oleh pihak luar.

"Saya tidak akan membiarkan mereka memungut biaya. Kalau ada yang akan memungut biaya, kami yang akan melakukannya," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Dalam kesempatan berbeda, Trump menekankan bahwa proses diplomasi dengan pihak Teheran menjadi ruang terakhir sebelum dilakukannya tindakan militer lanjutan.

"Tahap pertama adalah pembukaan selat. Tahap kedua adalah denuklirisasi. Dan hal itu akan membutuhkan waktu," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Sementara itu, pihak Teheran mengonfirmasi keberlangsungan negosiasi yang difasilitasi oleh Oman guna memastikan keamanan jalur navigasi internasional.

"Hasil akhir dari negosiasi ini akan diumumkan setelah pembicaraan selesai," kata Esmail Baghaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran.

Dari kubu Amerika Serikat, para pejabat tinggi mengonfirmasi adanya progres komunikasi namun menegaskan belum ada kesepakatan resmi yang ditandatangani.

"namun belum mencapai kesepakatan final," kata Marco Rubio, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat.

Pemerintah AS berharap negosiasi dapat segera membuahkan hasil nyata demi menstabilkan kondisi kawasan.

"ada kemungkinan kita mencapai kesepakatan hari ini atau besok untuk membuka kembali selat tersebut dan bergerak menuju situasi konflik yang lebih normal," kata Scott Bessent, Menteri Keuangan Amerika Serikat.

Di tengah dinamika diplomasi, persediaan amunisi dan rudal militer Amerika Serikat dilaporkan menyusut drastis setelah digunakan selama perang berlangsung. Namun pihak Gedung Putih menegaskan kesiapan kapasitas logistik militer mereka.

"Kami memiliki amunisi jauh lebih banyak dibandingkan negara mana pun di dunia, bahkan jauh lebih banyak dari yang kami perlukan," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Pihak Pentagon turut menegaskan kekuatan tempur dan kesiapan pertahanan AS dalam menghadapi berbagai potensi ancaman global.

"Militer Amerika adalah yang paling kuat di dunia dan memiliki semua yang dibutuhkan untuk melaksanakan operasi kapan pun dan di mana pun sesuai keputusan Presiden. Kami telah menjalankan berbagai operasi yang sukses di berbagai wilayah komando tempur sambil memastikan militer AS tetap memiliki persenjataan yang memadai untuk melindungi rakyat dan kepentingan kami," kata Sean Parnell, Juru Bicara Utama Pentagon.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: AS Donald Trump Iran selat hormuz
Editors Team
gilang-permana-putra
Author