Dokter Lahargo Kembaren Tanggapi Fenomena Perundungan Nakes di Media Sosial
Spesialis kedokteran jiwa dr Lahargo Kembaren, SpKJ menanggapi fenomena penyerangan massal netizen terhadap oknum tenaga kesehatan di media sosial pada Rabu (5/8/2026), sebagaimana dilansir dari Detik Health. Aksi tersebut dipicu kekecewaan publik atas komentar nirempati oknum nakes terhadap pasien BPJS Kesehatan yang mengeluhkan antrean ruang rawat inap hingga akhirnya meninggal dunia.
Lahargo menjelaskan bahwa kasus ini memperlihatkan kerentanan hubungan humanis saat berada di bawah tekanan sistem pelayanan serta paparan media sosial. Ia menilai pentingnya penerapan empati yang disertai batas etika dan profesionalisme yang sehat bagi para nakes maupun masyarakat.
"Di balik seragam tenaga kesehatan ada manusia yang lelah. Namun, di balik status pasien ada manusia yang sedang ketakutan dan berharap ditolong. Pada akhirnya, pelayanan kesehatan adalah perjumpaan antara manusia dengan manusia," ujar dr Lahargo Kembaren, SpKJ.
Ia mengimbau publik agar tidak menjadikan amarah dan rasa solidaritas terhadap korban sebagai ajang perundungan massal yang merendahkan martabat orang lain di ruang digital.
"Seberat apa pun rasa kecewa atau tekanan yang dihadapi, tidak ada situasi yang dapat membenarkan komentar yang merendahkan martabat seseorang. Kata-kata dapat menjadi obat, tetapi juga dapat menjadi luka yang memperdalam penderitaan," tegas dr Lahargo Kembaren, SpKJ.
Untuk meminimalisasi ujaran kebencian, Lahargo menyarankan masyarakat menerapkan lima pertanyaan reflektif sebelum mengunggah komentar di media sosial, yaitu mengecek kebenaran (True), kebermanfaatan (Helpful), inspirasi (Inspiring), urgensi (Necessary), dan keadaban pesan (Kind).
"Semakin sering kita mendengarkan tanpa menghakimi dan memilih kata-kata yang membangun, semakin kuat pula kemampuan empati kita-baik di rumah sakit maupun di dunia digital," pungkas dr Lahargo Kembaren, SpKJ.