Polisi Korea Selatan Penggeledahan Kantor Pusat Starbucks Korea
Aparat Kepolisian Korea Selatan menggelar tindakan penggeledahan di kantor pusat Starbucks Korea pada Rabu, 5 Agustus 2026. Langkah hukum ini berkaitan dengan promosi "Tank Day" yang dituduh mencemarkan nama baik para aktivis korban unjuk rasa pro-demokrasi tahun 1980.
Seperti dilansir dari Detikcom, kegaduhan bermula saat Starbucks Korea meluncurkan kampanye iklan "Tank Day" pada 18 Mei lalu. Promosi tersebut memperkenalkan lini tumbler berkapasitas besar untuk produk minuman kopi mereka.
Peluncuran program promosi itu bertepatan dengan momen peringatan peristiwa pemberontakan pro-demokrasi Gwangju tahun 1980. Saat itu, sedikitnya 165 warga sipil tewas akibat pengerahan tank oleh rezim diktator militer Korsel ke jalanan.
Jaringan kedai kopi internasional tersebut dinilai meremehkan gerakan protes sejarah dan menghina para korban yang dikenang sebagai martir oleh masyarakat Korsel. Sejumlah kelompok masyarakat sipil serta keluarga korban kemudian melayangkan aduan resmi terhadap Shinsegae Group selaku operator Starbucks Korea.
"Kepolisian Seoul menggeledah kantor pusat Starbucks Korea pagi ini sebagai bagian dari penyelidikan yang sedang berlangsung," kata juru bicara Shinsegae Group kepada AFP.
Pihak Kepolisian Seoul mengonfirmasi bahwa proses penyelidikan terhadap perusahaan masih berjalan. Namun, aparat penegak hukum tersebut enggan membeberkan detail lebih lanjut mengenai kasus ini.
Laporan aduan resmi tersebut menyeret nama Chairman Shinsegae Group Chung Yong Jin dan mantan CEO Starbucks Korea Son Jung Hyun. Son Jung Hyun sendiri telah diberhentikan dari jabatannya akibat dampak kegaduhan promosi tersebut.
Materi iklan yang diluncurkan turut menyinggung frasa-frasa lama. Kalimat tersebut pernah dipakai oleh pejabat masa lalu untuk membantah tuduhan penyiksaan hingga tewas terhadap seorang aktivis mahasiswa.
Korea Selatan mencatatkan diri sebagai pasar terbesar ketiga bagi jaringan Starbucks di tingkat global, berada di bawah Amerika Serikat dan China. Gelombang protes masyarakat sempat memicu penyampaian permohonan maaf terbuka serta penutupan sementara lebih dari 2.000 gerai pada Juni lalu demi mengedukasi staf terkait sejarah.
Manajemen Shinsegae Group menyatakan bahwa audit internal tidak menemukan unsur pelanggaran yang disengaja. Namun, perusahaan mengakui adanya kendala pemeriksaan karena eksekutif perencana kampanye menolak menyerahkan ponsel pribadinya.
Penyidik kepolisian kini berupaya mengumpulkan bukti-bukti tambahan yang belum terungkap dalam pemeriksaan internal perusahaan.