Komisi V DPR Panggil Kemenhub Terkait Kebakaran KMP Mutiara Sentosa 2
Komisi V DPR RI akan memanggil Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan instansi terkait pada 19 Agustus 2026 untuk membahas insiden kebakaran KMP Mutiara Sentosa 2 di perairan utara Madura yang menyebabkan lima penumpang meninggal dunia, dilansir dari Detikcom.
Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus, menilai insiden ini mencerminkan lemahnya pengawasan keselamatan pelayaran di Indonesia dan menegaskan bahwa tanggung jawab utama ada pada pemerintah yang mengeluarkan otorisasi operasional kapal.
Menurut Lasarus, pemerintah seharusnya memastikan kapal layak berlayar, dan kecelakaan berulang menunjukkan ketidakmampuan pemerintah dalam mengawasi keselamatan pelayaran. Ia menyoroti bahwa anggaran untuk pemeriksaan kapal sebelum berlayar (ramp check) belum memadai.
"Ini gambaran lemahnya pengawasan terhadap keselamatan pelayaran di Indonesia," ujar Lasarus.
"Kita sudah mengingatkan lama, tapi tidak dilaksanakan. Korelasinya tidak munculnya anggaran ramp check yang cukup untuk pengecekan sebelum kapal berlayar," tambahnya.
Komisi V DPR akan mengundang Menteri Perhubungan, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Pelindo, dan penyedia jasa kapal untuk dimintai keterangan terkait kecelakaan ini.
"Kami akan panggil Kementerian Perhubungan Rabu 19 (Agustus). Kami akan mengundang Menteri Perhubungan, KNKT, Pelindo, dan pihak penyedia jasa kapal," tegas Lasarus.
Lasarus juga menyoroti ketidaksesuaian antara jumlah manifest dan penumpang di kapal tersebut, yang menunjukkan lemahnya pengawasan dasar dari pihak pelabuhan.
"Jumlah manifest lebih sedikit daripada jumlah penumpang. KSOP nyuruh kapal berlayar, tapi data tidak sama dengan yang naik. Ini menunjukkan tidak diawasi dengan baik," kata Lasarus.
"Meminta investigasi menyeluruh terkait penyebab Kapal Mutiara Sentosa 2 terbakar," pungkasnya.
Kepala Basarnas, M Syafii, menyampaikan operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) korban kebakaran KMP Mutiara Sentosa 2 akan berlangsung selama tujuh hari dan evaluasi perpanjangan akan dilakukan setelahnya.
"Jika terkonfirmasi masih ada korban yang belum ditemukan, kami akan melanjutkan operasi," ujar Syafii, dilansir dari Detikcom.
Operasi penyelamatan berjalan cepat berkat siaran darurat dari Basarnas Command Center yang langsung mendapat respons dari tujuh kapal sipil di sekitar lokasi, meski kondisi cuaca buruk.