Kemenkes Temukan Jutaan Warga Bebas Penyakit Kini Idap Hipertensi

Share

Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat mengikuti Program Cek Kesehatan Gratis setiap tahun setelah evaluasi menunjukkan jutaan warga yang sebelumnya dinyatakan bebas penyakit kini terdiagnosis mengidap hipertensi hingga diabetes pada Selasa (4/8/2026).

Hasil analisis data peserta Cek Kesehatan Gratis (CKG) menunjukkan perubahan kondisi kesehatan yang signifikan pada warga yang mengikuti pemeriksaan selama dua tahun berturut-turut, sebagaimana dilansir dari Detik Health.

Dari 9,2 juta orang yang kembali diperiksa pada 2026 setelah dinyatakan bebas penyakit pada 2025, sebanyak 1 juta orang di antaranya kini terdiagnosis hipertensi. Lonjakan kasus juga terjadi pada kelompok prehipertensi, di mana 297 ribu dari 1,3 juta orang yang diperiksa ulang telah berkembang menjadi penderita hipertensi.

"Pesannya adalah selalu cek kesehatan gratis setiap tahun. Karena bisa jadi tahun lalu kita tidak bermasalah, tahun ini kita bermasalah," kata Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes dr Maria Endang Sumiwi, MPH.

Kondisi serupa terjadi pada pemeriksaan kadar gula darah masyarakat. Dari 8,3 juta peserta non-diabetes yang mengikuti pemeriksaan ulang tahun ini, sebanyak 188 ribu orang terdiagnosis mendapuk diabetes, sementara 16 ribu orang dari kelompok prediabetes kini telah berkembang menjadi penderita diabetes.

"Jadi tahun lalu 30 juta diperiksa tidak bermasalah. Dari yang sudah kembali diperiksa tahun ini, ternyata satu juta menjadi hipertensi. Ini menunjukkan kenapa cek kesehatan harus dilakukan setiap tahun," ujar Endang.

Meski demikian, evaluasi CKG juga mencatat tren positif dalam pengendalian penyakit kronis. Sebanyak 235 ribu dari 340 ribu penderita diabetes yang diperiksa ulang berhasil mengendalikan kadar gula darahnya, sedangkan 1,1 juta dari 2,4 juta penderita hipertensi sukses mengembalikan tekanan darah mereka ke batas normal.

"Karena itu masyarakat yang sudah diperiksa tahun lalu diharapkan segera kembali lagi mengikuti CKG tahun ini," kata Endang.

Sebagai langkah tindak lanjut, pemerintah menyediakan pasokan obat gratis untuk 15 hari pertama sebelum perawatan dilanjutkan melalui mekanisme BPJS Kesehatan. Namun, uji coba di tiga puskesmas memperlihatkan baru 43 hingga 62 persen pasien terdiagnosis yang langsung mengambil pengobatan.

"Itu tujuan kita. Yang tahun lalu hipertensi, tahun ini jangan masih hipertensi. Kita ingin semakin banyak masyarakat yang tekanan darahnya kembali normal," ujar Endang.

Rendahnya tingkat kepatuhan pengobatan terjadi akibat sebagian warga tidak mendatangi fasilitas kesehatan setelah mengikuti pemeriksaan di luar gedung. Untuk menanggulangi kendala tersebut, Kemenkes mengevaluasi skema pelayanan dengan opsi mendistribusikan obat secara langsung saat kegiatan pemeriksaan berlangsung di komunitas.

"Hasil evaluasi kami masih bervariasi. Ada yang diperiksa saat kegiatan di komunitas, tetapi ketika diminta datang ke puskesmas untuk mengambil obat ternyata tidak datang," jelasnya.

Evaluasi mekanisme pelayanan obat difokuskan agar penanganan medis dapat segera dimulai demi mencegah risiko komplikasi serius seperti penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, dan risiko kematian dini pada masyarakat.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author