Habita Dikritik Usai 2 Pekerja Meninggal di Aeon Mall Kumamoto
Instruksi manajemen toko barang umum Habita menuai gelombang kritik publik setelah dua pegawainya tewas akibat ledakan di Aeon Mall Kumamoto. Kedua korban sebelumnya telah berhasil menyelamatkan diri dari guncangan gempa berkekuatan 6,8 skala Richter pada 28 Juli 2026, tetapi diminta kembali ke dalam gedung untuk mengambil uang tunai kasir.
Kedua pekerja tersebut termasuk dalam tujuh korban tewas di area mall, dari total 38 korban jiwa akibat bencana gempa di Prefektur Kumamoto. Insiden ledakan terjadi sekitar satu jam pascagempa, saat beberapa karyawan masih berada di dalam area bangunan.
Pihak manajemen Habita menyampaikan permintaan maaf resmi atas insiden yang merenggut nyawa staf mereka. Direktur Penjualan Habita, Goji Yuse, mengakui adanya kekeliruan dalam keputusan operasional saat evakuasi berlangsung.
"Instruksi yang diberikan pada saat itu tidak tepat, dan saya sangat menyesalinya," kata Direktur Penjualan Habita, Goji Yuse, seperti dilaporkan NHK.
Manajemen menegaskan tengah mengevaluasi langkah lanjutan atas peristiwa tersebut. Pernyataan penyesalan mendalam kembali disampaikan Yuse saat menghadiri prosesi penghormatan terakhir salah satu korban pada 2 Agustus 2026.
"Jika mengingat kembali sekarang, itu tidak sebanding dengan nyawa," kata Yuse kepada wartawan di acara duka, lapor Kyodo.
Salah satu korban teridentifikasi bernama Kurumi Otake, berusia 22 tahun, sementara identitas satu korban lainnya belum dirilis resmi. Pihak keluarga menyatakan Otake sempat menemui kerabat di luar gedung sebelum akhirnya masuk kembali ke area toko.
Tugas memindahkan uang dari mesin kasir ke brankas menjadi alasan utama Otake kembali ke dalam bangunan yang rawan tersebut. Hal itu terkonfirmasi melalui kehadiran dua perwakilan Habita pada acara duka korban.
Kehilangan Otake memberikan pukulan berat bagi keluarga, mengingat almarhumah merupakan tulang punggung yang mendukung ibunya sejak sang ayah meninggal tiga tahun lalu. Pihak keluarga menilai insiden mematikan ini seharusnya dapat dihindari.
"Jika dia tidak kembali ke dalam toko saat itu, Kurumi masih akan bersama keluarganya hari ini," kata kerabat Otake, dilansir dari Asahi Shimbun.
Duka mendalam juga disampaikan oleh ibu korban atas kepergian putrinya dalam tragedi tersebut.
"Putri saya tidak akan kembali," kata ibu Otake, dilansir dari media lokal.
Perusahaan Habita berdiri sejak tahun 1976 dan saat ini mengoperasikan lebih dari 10 jaringan toko yang tersebar di beberapa prefektur Jepang.