OJK Catat Penyaluran Paylater Perbankan Tembus Rp 30 Triliun
Otoritas Jasa Keuangan membeberkan baki debet layanan Buy Now Pay Later perbankan mencapai Rp 30,71 triliun hingga Juni 2026, sebagaimana dilansir dari Detik Finance pada Selasa (4/8/2026).
Capaian tersebut mencatatkan pertumbuhan sebesar 33,54 persen secara tahunan. Meski tumbuh signifikan, laju peningkatan ini sedikit melambat apabila dibandingkan dengan periode Mei 2026 yang sempat menyentuh angka 37,72 persen.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menjelaskan bahwa kepraktisan proses persetujuan menjadi pendorong utama masyarakat memilih fasilitas pembiayaan ini.
"Kemudian juga perilaku konsumsi masyarakat, khususnya generasi muda itu menunjukkan kecenderungan, menjadikan cicilan berbunga jangka pendek itu sebagai bagian dari gaya hidup," ujar Dian dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan Juli 2026 secara virtual, Selasa (4/8/2026).
Ia menambahkan bahwa tren ini mengindikasikan strategi keuangan skala rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
"Dari perspektif ekonomi makro, meningkatnya penggunaan kredit pay later dapat mencerminkan upaya rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan konsumsi utang jangka pendek," tambah Dian.
Data OJK merekam jumlah rekening paylater perbankan telah menembus 32,8 juta rekening. Portofolio kredit ini didominasi oleh perbankan kelompok KBMI 1 dan KBMI 3 yang membukukan kenaikan hingga dua digit.
"Jumlah rekening pay later perbankan itu sudah mencapai angka 32,80 juta rekening dengan rata-rata bagi debit untuk setiap rekening itu sebesar 0,94 juta," ujar Dian.
Di tengah lonjakan pengguna, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan justru melandai ke level 2,36 persen pada Juni 2026 dari sebelumnya 2,50 persen di bulan Mei 2026.
"Risiko kredit dari pay later perbankan pada Juni 2026 itu masih terjaga dengan rasio NPL sebesar 2,36%. Ini relatif turun jika dibandingkan Mei 2026 yang mencapai angka 2,50%. Di samping itu juga pertumbuhan bagi debit pay later didorong terutama oleh bank KBMI 1 dan KBMI 3 yang mampu mencatat pertumbuhan double digit," tutup Dian.
OJK mencatat porsi pembiayaan paylater masih berada di skala rendah terhadap total kredit perbankan nasional, yakni sebesar 0,34 persen.