Studi The Lancet Sebut Angka Harapan Hidup Warga Singapura Tertinggi

Share

Singapura mencatatkan diri sebagai negara dengan angka harapan hidup penduduk tertinggi di dunia. Temuan ini terungkap dalam penelitian The Lancet Public Health yang memproyeksikan data kesehatan dari 204 negara, sebagaimana dikutip dari Detikcom.

Riset tersebut memperkirakan rata-rata masyarakat Singapura mampu bertahan hidup hingga melampaui usia 85 tahun. Capaian ini dipengaruhi oleh integrasi sistem perawatan kesehatan serta jaminan sosial yang dirancang secara terencana.

Penulis studi dari Sekolah Kedokteran Yong Loo Lin National University of Singapore, Dr. Marie Ng, memberikan penjelasannya terkait temuan tersebut.

"Umur panjang Singapura mencerminkan kebijakan jangka panjang yang disengaja, bukan karena satu penyebab tunggal," kata Dr. Marie Ng.

Sistem tata kelola berbasis bukti menjadi fondasi utama yang mendukung kualitas hidup warga setempat. Meski demikian, tim peneliti menemukan adanya tantangan kesehatan pada sisa masa hidup para lansia.

Memasuki usia 80 tahun, warga Singapura berisiko menghadapi masalah kesehatan pada 11,2 tahun sisa usianya. Hal ini menunjukkan adanya selisih antara total angka harapan hidup dengan harapan hidup sehat.

Jika dikalkulasi secara spesifik, angka harapan hidup sehat masyarakat Singapura berada di tingkat 74,1 tahun. Data tersebut mengindikasikan bahwa peningkatan harapan hidup sehat secara global belum sejalan dengan bertambahnya usia harapan hidup.

Secara umum, kelompok perempuan memiliki usia harapan hidup lebih panjang ketimbang laki-laki. Penelitian mencatat populasi perempuan di Singapura berpotensi hidup 4,4 tahun lebih lama dibanding laki-laki, meskipun harus menghabiskan masa tua dengan kondisi kesehatan yang menurun.

Pakar kesehatan dari King's College London, Dr. Julian Mutz, turut memberikan pandangannya mengenai fenomena perbedaan gender tersebut.

"Paradoks kesehatan gender, bahwa perempuan hidup lebih lama tetapi dengan lebih banyak tahun dalam kondisi kesehatan yang buruk, telah lama dikenal tetapi masih kurang dijelaskan. Studi ini merupakan pengingat lain bahwa hal ini layak mendapat perhatian lebih," kata Dr. Julian Mutz.

Sejumlah penyakit yang kerap dialami kelompok lansia mencakup gangguan muskuloskeletal, depresi, kecemasan, gangguan pendengaran, cedera, diabetes, tekanan darah tinggi, hingga penyakit jantung.

Terkait kondisi ini, Profesor Simon Jones dari Pusat Penuaan Muskuloskeletal Universitas Birmingham menegaskan pentingnya pergeseran fokus penilaian kualitas hidup.

"Pesan utamanya adalah bahwa umur panjang saja bukanlah lagi ukuran keberhasilan yang tepat. Pertanyaan mendesaknya bukanlah sekadar berapa lama kita hidup, tetapi seberapa baik kita menjalani babak terakhir kehidupan kita dan apakah tahun-tahun tambahan itu merupakan tahun-tahun vitalitas atau penurunan," kata Profesor Simon Jones.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author