Benjamin Netanyahu Tolak Rencana Gencatan Senjata Gaza Usulan Donald Trump

Share

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan penolakannya terhadap skema kesepakatan terbaru Gaza dalam pertemuan bersama utusan Dewan Perdamaian bentukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Nickolay Mladenov, pada Senin (3/8/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Sikap keras tersebut disampaikan Netanyahu merespons rencana perdamaian yang digagas tim kepresidenan Donald Trump. Pemimpin Israel itu memastikan tidak akan menghentikan operasi militer maupun menarik pasukannya dari posisi-posisi strategis di Jalur Gaza.

Penolakan resmi tersebut disampaikan langsung kepada Mladenov dalam sebuah pertemuan khusus. Surat kabar Israel Hayom melaporkan bahwa pemerintah Israel menolak tegas seluruh poin penarikan tentara dari kawasan konflik.

"Israel tidak akan menarik pasukannya dari posisi-posisi yang dikuasainya di Gaza, dan tidak akan melakukan gencatan senjata," tegas Netanyahu, Perdana Menteri Israel.

Penolakan tersebut didasari oleh kekhawatiran Israel atas aktivitas pergerakan kelompok perlawanan di kawasan tersebut. Netanyahu menuding militerisasi masih terus berlangsung di Jalur Gaza.

"Hamas terus membangun kembali kemampuan militernya dan menjadi ancaman langsung bagi militer Israel dan masyarakat di sekitar Gaza," kata Netanyahu, Perdana Menteri Israel.

Sebelumnya, Dewan Keamanan Nasional Israel telah menyampaikan keberatan resmi terkait ketentuan rencana gencatan senjata ini kepada Dewan Perdamaian dan tim kepresidenan Trump. Sikap tersebut merespons pengumuman Dewan Perdamaian dan Donald Trump pada Jumat (31/7/2026) mengenai pelaksanaan tahap berikutnya dari gencatan senjata Gaza.

Kesepakatan usulan Trump tersebut memuat roadmap terperinci mengenai pengaturan keamanan, administratif, serta masa transisi di Jalur Gaza. Skema itu juga mengatur perlucutan senjata Hamas dan penarikan pasukan Israel secara bertahap yang pelaksanaannya saling berkaitan bergantung pada kepatuhan kedua pihak.

Menanggapi kerangka kerja memuat 15 poin itu, pihak militer Israel bersikeras mempertahankan kebebasan operasional di Gaza. Berdasarkan laporan televisi Israel KAN, para pejabat senior militer telah menetapkan tiga garis merah dan dijadwalkan memaparkan tuntutan tersebut dalam pembicaraan dengan Kepala Staf Israel Eyal Zamir pada Rabu (5/8/2026).

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author