Dokter Ungkap Risiko Stroke Usia Muda dan Cara Mencegahnya

Share

Ancaman stroke kini tidak lagi terbatas pada kelompok usia lanjut, melainkan juga mengintai kalangan anak muda yang aktif. Masalah pembuluh darah kerap berkembang tanpa gejala awal dan baru terdeteksi saat komplikasi memburuk, seperti dilansir dari Detik Health.

Spesialis Saraf Mayapada Hospital Tangerang, dr. Tri Wahyudi, Sp.N, FINS, FINA, memaparkan bahwa gangguan aliran darah ke otak dapat bersumber dari sumbatan ataupun pecahnya pembuluh darah.

"Stroke pada usia muda dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, dan pola hidup kurang sehat hingga kelainan pada pembuluh darah otak yang tidak selalu menimbulkan gejala. Karena itu, seseorang tidak bisa hanya mengandalkan kondisi tubuh yang terasa sehat untuk menilai risiko stroke. Evaluasi sejak dini penting untuk membantu mengidentifikasi potensi gangguan dan menentukan langkah pencegahan yang tepat," jelas dr. Tri dalam keterangan tertulis, Selasa (4/8/2026).

Pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi kunci utama deteksi dini, terutama bagi individu dengan riwayat keluarga penderita stroke. Prosedur canggih seperti Magnetic Resonance Imaging (MRI) dapat dimanfaatkan untuk mengevaluasi jaringan dan saluran darah di otak.

Metode ini mencakup Magnetic Resonance Angiography (MRA) untuk memantau arteri serta Magnetic Resonance Venography (MRV) guna memeriksa kondisi pembuluh darah vena.

"Melalui MRA, dokter dapat membantu mendeteksi penyempitan, sumbatan, maupun kelainan pada pembuluh darah arteri yang berpotensi meningkatkan risiko stroke. Sementara itu, MRV membantu mengevaluasi gangguan pada aliran darah vena otak yang dapat berkaitan dengan berbagai kondisi neurologis," ujar dr. Tri.

Dokter akan memanfaatkan hasil pemindaian tersebut untuk memetakan tingkat risiko pasien sekaligus menyusun skema penanganan yang presisi.

Pentingnya Evaluasi Kesehatan Menyeluruh

Spesialis Saraf Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Sheila Agustini, Sp.S, menambahkan bahwa strategi pencegahan memerlukan penilaian komprehensif di luar sekadar mengontrol gula darah atau tekanan darah.

"Semakin dini faktor risiko dikenali, semakin besar peluang untuk mencegah terjadinya stroke. Karena itu, pemeriksaan dan evaluasi kesehatan perlu dipertimbangkan terutama pada individu yang memiliki faktor risiko maupun riwayat keluarga dengan stroke," jelas dr. Sheila.

Fasilitas Penanganan Neurologi Terpadu

Penguatan layanan kesehatan saraf dipusatkan melalui Tahir Neuroscience Center di Mayapada Hospital. Fasilitas ini menyediakan penanganan terpadu untuk gangguan otak, saraf, dan tulang belakang, mencakup diagnosis, tindakan bedah saraf, hingga rekam neurorehabilitasi.

Mayapada Hospital Jakarta Selatan (MHJS) sendiri telah mengantongi akreditasi internasional dari Joint Commission International (JCI). Sebagai Stroke Ready Hospital, MHJS menerapkan standar door-to-needle di bawah 60 menit untuk kasus stroke iskemik melalui tindakan trombolisis dan trombektomi 24 jam.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author