BPJS Kesehatan Resmi Meluncurkan Program NADI JKN di Jakarta

Share

BPJS Kesehatan resmi meluncurkan Program NADI JKN (Menabung Demi Iuran JKN) di Jakarta pada Selasa (4/8/2026) guna membantu peserta sektor Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) dan pekerja informal menjaga keaktifan status kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional melalui mekanisme tabungan iuran bertahap.

Skema pembayaran mencicil ini dirancang untuk meringankan beban finansial kelompok pekerja berpenghasilan tidak tetap seperti pengemudi ojek daring, petani, serta nelayan agar tidak terbebani kewajiban pelunasan iuran secara sekaligus saat jatuh tempo.

Data BPJS Kesehatan mencatat dari 285 juta total peserta JKN, sebanyak 54 juta orang di antaranya berstatus tidak aktif akibat menunggak pembayaran iuran. Secara nasional, tingkat cakupan kepesertaan telah mencapai 98,60 persen dengan angka keaktifan sebesar 80,25 persen.

Pelaksanaan program ini dikembangkan melalui dua skema utama, yaitu digital-kolektif yang bermitra dengan ekosistem digital seperti PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk serta skema konvensional-perorangan yang melibatkan BUMDes, koperasi, dan PT Pos Indonesia.

Langkah awal implementasi uji coba skema konvensional kini tengah berlangsung di lima wilayah kantor cabang BPJS Kesehatan, meliputi Jakarta Selatan, Pangkalpinang, Boyolali, Banyuwangi, dan Parepare.

Uji coba di Kabupaten Banyuwangi dilakukan karena daerah tersebut memiliki cakupan kepesertaan terendah di Jawa Timur sebesar 89 persen dengan tingkat keaktifan peserta hanya mencapai 53 persen, berada di bawah rata-rata keaktifan provinsi sebesar 77 persen.

Dalam skema kemitraan bersama PT Pos Indonesia, masyarakat dapat membuka tabungan iuran dengan setoran awal minimal Rp10.000 melalui Kantor Pos, aplikasi Pospay, maupun agen Pos tanpa dikenakan biaya administrasi bulanan.

Sementara pada ekosistem GoTo, sebanyak 3.147 mitra pengemudi Gojek tercatat telah terdaftar dalam program pemotongan harian otomatis (daily deduct engine) dengan pilihan frekuensi tabungan harian atau berkala sesuai kemampuan mitra.

"BPJS sekarang anggotanya sudah 285 juta jiwa. Tetapi sayangnya sebesar 54 juta masih belum aktif. Ke depan meningkatkan kepesertaan aktif menjadi sangat penting, termasuk mengumpulkan iuran," beber pria yang akrab disapa Pujo, dalam peluncuran NADI JKN, Selasa (4/8/2026).

Pihak manajemen BPJS Kesehatan menekankan bahwa kemudahan pembayaran harian ini diharapkan mampu mendorong tingkat keaktifan peserta mandiri secara berkelanjutan.

"Kalau kita menghadapi rekan-rekan kita yang bekerja tiap hari mencari penghasilan, contohnya teman-teman ojol, penghasilannya harian. Ini menjadi kesempatan kita membantu mereka membayar iuran dengan cara mencicil, menabung harian," katanya.

Mekanisme penabungan disesuaikan dengan kemampuan peserta tanpa pengenaan bunga maupun biaya tambahan.

"Sehingga dia bisa kumpulkan sebesar Rp35 ribu untuk kelas III. Dengan menjadi peserta aktif, mereka mendapatkan jaminan perlindungan kesehatan sekaligus proteksi finansial ketika jatuh sakit," lanjutnya.

Skema teknis penarikan tabungan dikelola langsung oleh mitra yang terhubung ke sistem pembayaran resmi BPJS Kesehatan.

"Kalau yang di GOTO dikasih pilihan mau harian atau delapan kali. Jadi kalau memilih delapan kali, nominalnya sekitar Rp17.500 per setoran. Tapi kalau menabung setiap hari kerja, misalnya dihitung 20 hari, sekitar Rp7.000 per hari," jelasnya.

Jangkauan sasaran program NADI JKN diproyeksikan akan terus diperluas ke berbagai lini sektor pekerjaan informal lainnya.

"Nanti akan kita sasar kelompok nelayan, petani, pekerja gig, pekerja nonformal, atau kelompok wartawan juga kalau memang berkenan," beber David.

Faktor kemampuan bayar menjadi kendala utama pemicu tingginya angka tunggakan peserta mandiri di daerah.

"Kalau kita lihat dari 38 kabupaten/kota yang kita miliki, Banyuwangi ini adalah daerah yang cakupan dan keaktifannya paling rendah. Cakupan Banyuwangi ada di angka 89 persen dengan tingkat keaktifan 53 persen," kata Made di Banyuwangi, Selasa (4/8/2026).

Kemudahan skema tabungan diharapkan menjadi solusi efektif atas kendala finansial peserta.

"Hampir sebagian besar peserta yang menunggak pembayaran ini karena ability to pay-nya. Jadi kemampuan bayarnya masih rendah. Program ini dihadirkan agar masyarakat lebih mudah melakukan pembayaran, sehingga mereka tidak harus langsung membayar sekaligus," terangnya.

Sistem akan mendebet saldo tabungan secara otomatis begitu nominal iuran bulanan terpenuhi.

"Jadi mereka bisa mencicil secara harian, minggu sampai uang yang ditabung itu cukup untuk membayar iuran. Nanti akan ditarik secara otomatis oleh sistem," tambah Made.

Kemudahan fasilitas penabungan juga didukung penuh oleh penyedia layanan logistik nasional.

"Pada saat saldonya sudah mencukupi, nanti akan didebet otomatis untuk iuran JKN-nya," kata Cecep.

Manajemen BPJS Kesehatan menegaskan bahwa inovasi ini dirancang khusus untuk mengakomodasi pola pendapatan harian masyarakat.

"Masih banyak peserta yang sebenarnya memiliki kemauan membayar iuran, tetapi mengalami kesulitan menyiapkan dana secara penuh ketika jatuh tempo, terutama peserta PBPU yang penghasilannya tidak tetap. Karena itu, kami menghadirkan Program NADI JKN agar peserta dapat menyiapkan dana iuran secara bertahap sesuai kemampuan," kata Pujo saat peluncuran Program NADI JKN.

Rencana strategis perluasan program akan disesuaikan dengan tahapan petunjuk teknis yang telah ditetapkan.

"Kami berharap implementasi NADI JKN berjalan sesuai roadmap yang telah disusun sehingga manfaatnya dapat terus berkembang dan menjangkau lebih banyak masyarakat," ujarnya.

Dukungan terhadap fleksibilitas pembayaran iuran ini turut disuarakan oleh perwakilan pemerintah.

"Kehadiran NADI JKN merupakan bentuk keseriusan BPJS Kesehatan menghadirkan inovasi yang semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat. Dengan cara ini, peserta tidak lagi terbebani pembayaran iuran sekaligus," kata Raffi.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author