Panitia Buka Suara Alasan Keamanan Semifinal Piala Presiden Tanpa Tiket

Share

Faktor keselamatan menjadi alasan utama Panitia Penyelenggara Piala Presiden 2026 memutuskan tidak menjual tiket pertandingan babak semifinal di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali pada Selasa (4/8/2026). Pertemuan empat tim dengan sejarah rivalitas sengit melatarbelakangi langkah preventif ini.

Laga semifinal turnamen pra-musim ini mempertemukan Persib Bandung melawan Persija Jakarta pada pukul 15.30 WIB, disusul duel Persebaya Surabaya menghadapi Arema FC pada pukul 19.30 WIB. Kedua laga sengit tersebut dipastikan hanya dapat dinikmati masyarakat melalui siaran langsung televisi dan layanan penyiaran digital.

Keputusan peniadaan penonton langsung di tribun stadion disampaikan demi menghindari potensi risiko akibat gesekan antarsuporter.

"Saya kira, nomor satu, tentu saja kita memikirkan dari segi keamanan. Bagi kami di kepanitiaan, nomor satu adalah keselamatan. Keselamatan penonton, keselamatan suporter. Saya, pak Arya (Sinulingga), dan seluruh tim kepanitiaan, kami selalu beranggapan bahwa menonton sepak bola itu harus aman, harus nyaman, harus tenang, dan harus bahagia," menjelaskan Tsamara Amany, Ketua Organizing Committee Piala Presiden 2026.

Pihak panitia telah mengeluarkan imbauan resmi melalui akun Instagram Piala Presiden 2026 sejak Minggu malam agar suporter tidak membeli tiket dari pihak mana pun. Koordinasi intensif juga dijalankan bersama aparat berwenang untuk mengamankan jalannya pertandingan.

"Tapi memang, tentu tadi seperti yang sudah saya sampaikan. Kami juga akan berkoordinasi secara intens tentunya dengan pihak Kepolisian, keamanan, Pemerintah Daerah, dan juga TNI-POLRI tentunya, nomor satu keselamatan," ungkap Tsamara Amany.

Penyelenggara menekankan komitmennya untuk tidak mengorbankan keselamatan jiwa demi menggelar pertandingan olahraga.

"Kami akan koordinasi dengan pihak-pihak yang diperlukan. Tapi sama, jangan sampai karena sepak bola begitu kita mengorbankan orang," tambah Tsamara Amany.

Meskipun tribune stadion akan kosong tanpa kehadiran penonton, antusiasme pencinta sepak bola nasional diyakini tidak akan surut. Kualitas kompetisi dinilai tetap tinggi seiring keberhasilan klub lokal menyingkirkan tim luar negeri seperti Port FC, Arema FC, dan PSMS Medan.

"Dengan legenda-legenda di klubnya itu sudah membuktikan ternyata ini klub-klub terbaiknya legenda Indonesia. Dan mereka ditonton banyak orang. Itu sudah bukti bahwa hype-nya tidak akan turun," tutur Arya Sinulingga, Anggota Steering Committee Piala Presiden 2026.

Panitia penyelenggara menepis anggapan kurangnya antisipasi terhadap potensi pertemuan klub-klub rival legendaris tersebut. Penentuan tuan rumah memang sengaja dibatasi hanya sampai babak penyisihan grup.

"Sekalian jawab yang ini. Yang katanya, 'Wah, kan sudah tahu akan begini. Kok mengundang klub-klub itu?'.

Justru karena kita tahu. Maka dari itu, sejak awal kami sudah sampaikan ke klub, bahkan di pengumuman kita, bahwa tuan rumah itu hanya di penyisihan grup. Sampai di akhir tidak ada di mana semifinal dan final," jelas Arya Sinulingga.

Keputusan regulasi tersebut telah diperhitungkan secara matang sejak awal turnamen guna mengantisipasi segala konsekuensi keamanan.

"Jadi, sudah kami siapkan dan kami tahu memang bahwa dengan mengundang ini ada konsekuensinya. Kita siap juga dengan konsekuensi. Artinya sudah kita hitung.

Maka dari itu, tidak ada penentuan. Sejak awal tidak ada penentuan. Kita semua tahu.

UMKM juga tahu," tambah Arya Sinulingga.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author