Memahami Manfaat dan Sumber Protein Hewani untuk Anak
Pemenuhan asupan nutrisi yang optimal menjadi kunci utama dalam mendukung tumbuh kembang anak. Salah satu makronutrien yang memegang peranan krusial dalam proses ini adalah protein hewani.
Seperti dilansir dari HaiBunda, protein hewani dikenal sebagai sumber nutrisi lengkap karena mengandung seluruh asam amino esensial. Tubuh manusia tidak dapat memproduksi sendiri asam amino tersebut, sehingga harus diperoleh dari makanan sehari-hari.
Jika dibandingkan dengan pangan nabati, produk hewani memiliki proporsi asam amino yang lebih seimbang untuk jaringan tubuh. Daging sapi misalnya, mengandung sekitar 63 hingga 68 persen protein berdasarkan berat kering. Sementara itu, mayoritas bahan pangan tumbuhan di luar kacang-kacangan umumnya memiliki kandungan protein di bawah 12 persen.
Perbedaan mendasar antara kedua jenis protein ini terletak pada kelengkapan kandungan asam amino di dalamnya. Sebagian besar bahan pangan hewani otomatis menyediakan kesembilan asam amino esensial secara utuh.
Sebaliknya, mengutip Healthline, beberapa sumber nabati seperti gandum atau kacang tanah sering kali dianggap sebagai protein tidak lengkap. Meski demikian, penggabungan beberapa jenis bahan nabati—seperti roti gandum dengan selai kacang—dapat saling melengkapi kekurangan tersebut.
Manfaat Penting bagi Pertumbuhan Anak
Asupan protein dari sumber hewani memberikan beragam dampak positif bagi fisik anak. Nutrisi ini berfungsi sebagai bahan pembangun utama untuk membentuk otot, jaringan, serta organ tubuh.
Selain itu, protein berperan dalam pembentukan antibodi untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh dari infeksi. Kerja sama antara protein dan kalsium juga membantu pembentukan tulang serta gigi yang kuat. Konsumsi makanan ini turut memberikan rasa kenyang lebih lama sebagai sumber energi harian.
Berdasarkan informasi dari Only About Children, kebutuhan protein anak berbeda sesuai tingkatan usianya. Sebagai gambaran awal, anak usia 1 hingga 3 tahun membutuhkan sekitar 14 gram protein per hari. Takaran ini sebenarnya bisa dipenuhi hanya dari segelas susu dan sebutir telur saat sarapan.
Seiring bertambahnya usia, kecukupan gizi harian anak perlu disesuaikan kembali. Anak berusia 4 sampai 8 tahun membutuhkan 20 gram protein harian. Sedangkan pada rentang usia 9 hingga 13 tahun, anak laki-laki memerlukan 40 gram dan anak perempuan membutuhkan 35 gram protein per hari.
Pilihan Sumber dan Cara Pengolahan yang Tepat
Menurut Ohio State University, orang tua dapat memilih berbagai bahan pangan hewani yang kaya nutrisi. Pilihan yang disarankan meliputi daging unggas bagian dada, ikan berlemak seperti salmon dan sarden, daging sapi tanpa lemak, telur, hingga produk olahan susu rendah lemak.
Namun, tidak semua produk hewani memiliki nilai gizi yang sama baiknya. Makanan olahan seperti sosis atau nugget ayam cenderung mengandung lemak jenuh dan natrium yang tinggi, sehingga kurang ideal jika dikonsumsi berlebihan.
Prosedur memasak juga memengaruhi kualitas gizi yang diterima tubuh. Metode seperti merebus, mengukus, memanggang, atau mengukus perlahan jauh lebih direkomendasikan karena tidak menambah lemak berlebih.
Menggoreng dengan minyak berlebih atau memasak pada suhu yang sangat tinggi justru berpotensi merusak kadar lemak sehat. Penelitian dari American Institute of Cancer Research menunjukkan bahwa memasak daging pada suhu terlampau tinggi dapat memicu munculnya senyawa yang memicu risiko gangguan kesehatan.