Yayasan Jantung Indonesia Lakukan Skrining Penyakit Jantung Rematik di Bekasi

Share

Yayasan Jantung Indonesia melaksanakan skrining Penyakit Jantung Rematik (PJR) di Kabupaten Bekasi sebagai bagian dari program deteksi dini pada anak usia sekolah dasar. Kegiatan ini adalah tahap ketiga dari empat lokasi prioritas setelah Malang dan Tulang Bawang-Lampung, dilansir dari HaiBunda.

Di Bekasi, skrining tahap pertama dilakukan di SDN Cibuntu 01 dan SDN Warnasari 01, melibatkan 958 anak kelas 5 dan 6 SD. Pemeriksaan menggunakan alat ekokardiografi portabel bertujuan mendeteksi kelainan katup jantung akibat rematik secara cepat dan akurat.

Data menunjukkan 60 persen kasus radang tenggorokan berulang dapat berkembang menjadi PJR, dengan lebih dari setengah kasus tidak bergejala sampai stadium lanjut. Risiko kematian dini pada penderita PJR berat dua hingga tiga kali lebih tinggi, terutama pada kelompok usia 5-15 tahun, yang menjadi fokus skrining ini.

Ketua Bidang Medis dan Project Director Rheumatic Heart Disease Screening Yayasan Jantung Indonesia, dr. Ario Soeryo Kuntjoro, Sp.JP(K), menegaskan pentingnya skrining di sekolah karena usia tersebut sangat rentan terhadap PJR.

"Kehadiran kami di SDN Cibuntu 01 dan SDN Warnasari dengan 958 anak yang diskrining adalah bagian dari upaya besar untuk memastikan tidak ada anak yang terlewat dari program ini," ujar dr. Ario.

Kegiatan ini juga menghadirkan dokter spesialis jantung untuk edukasi kepada guru dan orang tua mengenai gejala awal PJR, penanganan infeksi tenggorokan yang tepat, dan pencegahan di rumah.

Ketua Bidang Komunikasi dan Project Leader skrining, Iwet Ramadhan, menyatakan bahwa Yayasan Jantung Indonesia membangun kesadaran di lingkungan sekolah dengan melibatkan guru dan orang tua sebagai garda terdepan.

"Dengan pengetahuan yang cukup, mereka bisa mengenali gejala awal dan segera mengambil tindakan. Ini adalah investasi jangka panjang untuk kesehatan generasi penerus bangsa," ujar Iwet.

Ketua Umum Yayasan Jantung Indonesia, Annisa Pohan Yudhoyono, menyampaikan harapan agar anak-anak di seluruh Indonesia bisa tumbuh dengan jantung sehat dan tidak terlambat diketahui mengidap PJR.

"Program ini adalah wujud nyata dari 'Use Heart for Action'—kami bertindak sekarang untuk melindungi masa depan mereka," kata Annisa Pohan.

Yayasan Jantung Indonesia berperan sebagai mitra strategis pemerintah dalam menekan angka penyakit kardiovaskular, khususnya PJR dan Penyakit Jantung Bawaan pada anak. Program skrining ini juga diharapkan menjadi model yang dapat diadopsi negara berkembang lain.

Iwet Ramadhan menambahkan bahwa program ini akan berlanjut ke Minahasa Utara setelah Bekasi, sebagai bagian dari perjalanan panjang dalam menyelamatkan nyawa anak-anak Indonesia.

Hasil skrining dari 958 anak di Bekasi dan wilayah lain akan dianalisis dan dipublikasikan sebagai dasar rekomendasi kebijakan skrining wajib di sekolah-sekolah Indonesia, menurut data yang dilansir dari HaiBunda.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author