Mayoritas Klub Sepak Bola Inggris Terancam Alami Kerugian Finansial

Share

Mayoritas klub sepak bola profesional di Inggris diproyeksikan membukukan kerugian pada 2026 akibat lonjakan biaya operasional, inflasi gaji, dan tingginya nilai belanja pemain meskipun pendapatan dari sponsor serta hak siar terus meningkat.

Berdasarkan laporan firma konsultan BDO yang dirilis Minggu (2/8/2026), sekitar 90 persen klub di empat divisi teratas Inggris menghadapi potensi kerugian finansial. Kondisi tersebut terjadi saat pengeluaran bursa transfer klub Premier League menembus US$ 1,6 miliar atau setara Rp 28,85 triliun.

BDO mencatat alokasi gaji mencapai 63 persen dari pendapatan klub Premier League dan 93 persen pada klub Championship. Lebih dari 90 persen klub yang disurvei memperkirakan kerugian sebelum pajak sehingga membutuhkan pendanaan tambahan dari pemegang saham.

Tekanan keuangan ini terlihat dari dinamika dua klub Inggris. Liverpool saat ini tengah menjajaki penjualan saham minoritas hingga 49 persen kepada konsorsium pimpinan Amit Bhatia dan keluarga Mittal, yang berpotensi melambungkan valuasi klub melebihi US$ 6 miliar atau Rp 108,17 triliun. Fenway Sports Group (FSG) dipastikan tetap mempertahankan saham mayoritas.

Di sisi lain, Leicester City resmi ditawarkan untuk dijual oleh pemiliknya, King Power, melalui penunjukan Citigroup. Langkah tersebut diambil usai Leicester mencatatkan kerugian sebesar 71,1 juta pound sterling (sekitar Rp 1,69 triliun) dan mengalami degradasi ke League One.

Untuk merespons krisis keuangan, Premier League siap menerapkan regulasi Squad Cost Ratio (SCR) mulai musim 2026/2027. Aturan pengganti Profitability and Sustainability Rules (PSR) ini membatasi pengeluaran skuad utama mencakup gaji, transfer, dan komisi agen maksimal 85 persen dari pendapatan klub serta laba penjualan pemain.

Pakar keuangan sepak bola sekaligus Mitra Pengelola Channel Associados, Moises Assayag, menegaskan bahwa kenaikan pemasukan komersial belum menjadi jaminan profitabilitas bagi klub.

Meskipun dibayang-bayangi kerugian, klub-klub Inggris tetap mendominasi belanja pemain musim panas 2026. Data Transfermarkt menunjukkan Inggris memimpin belanja transfer global sebesar US$ 1,6 miliar, mengungguli Italia (US$ 673 juta), Jerman (US$ 499 juta), Spanyol (US$ 353 juta), dan Prancis (US$ 282 juta).

Empat dari lima kepindahan termahal musim ini melibatkan tim Premier League, termasuk transfer Morgan Rogers dari Aston Villa ke Chelsea senilai US$ 159 juta serta perekrutan Elliot Anderson oleh Manchester City seharga US$ 155 juta.

Chief Executive Officer FutPro Expo, Veridiano Pinheiro, menilai tingginya minat pemodal membuktikan transformasi sepak bola dari olahraga tradisional menjadi platform hiburan global dengan potensi komersial yang masif.

Pergeseran fokus pemodal juga disampaikan oleh Chief Executive Officer P&P Sport Management, Claudio Fiorito, yang melihat investasi kini berorientasi pada akuisisi saham ketimbang sekadar membeli pemain.

Fenomena tersebut menjelaskan alasan dua pertiga klub dalam survei BDO tetap menerima pendekatan dari investor baru sepanjang 12 bulan terakhir meskipun ancaman kerugian masih mengintai.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author