Penjualan Bendera Merah Putih Musiman di Jakarta Kian Tergerus

Share

Omzet pedagang musiman bendera dan hiasan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia di kawasan Jakarta mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Kondisi ini terlihat di sepanjang Jalan Matraman Raya hingga kawasan Jatinegara, Jakarta Timur, seperti dilansir dari Detik Finance.

Para pedagang mulai memajang bermacam ukuran bendera Merah Putih, umbul-umbul, hingga dekorasi Kemerdekaan sejak awal Agustus. Lapak-lapak pedagang musiman menduduki area depan Taman Benyamin Sueb di seberang Stasiun Jatinegara hingga Pasar Mester di Jalan Bekasi Raya.

Sejumlah toko perabot rumah tangga di Pasar Mester Jatinegara turut beralih fungsi menjual bendera kemerdekaan. Sementara itu, pedagang di sepanjang Jalan Matraman Raya cenderung baru memajang dagangannya saat sore hari.

Bodi, salah satu pedagang di Pasar Mester Jatinegara, mengaku telah menjajakan atribut Merah Putih sejak era 1990-an meneruskan usaha orang tuanya yang dimulai tahun 1980-an. Pemilik toko perabot ini rutin berjualan dari akhir Juli sampai akhir Agustus.

"Setiap tahun kita buka, dari tahun 1990-an sudah jualan. Dari dulu sudah jualan di sini, dari zaman orang tua yang buka toko. Kalau dari orang tua itu sudah dari 1980-an tiap tahun jual bendera dari akhir Juli sampai akhir Agustus," ujar Bodi.

Penjualan pernak-pernik Kemerdekaan pada periode ini dinilai tidak sesignifikan tahun-tahun sebelumnya. Bodi mengungkapkan bahwa keuntungan bersih pedagang di wilayah tersebut bervariasi antara Rp 500.000 hingga Rp 2.000.000.

"Kalau melihat keuntungan ya, bukan bicara modal dan sebagainya, ya palingnya sekitar ada yang dapat Rp 2 juta, ada yang dapat Rp 1,5 juta, kadang ada yang dapat tipis cuma Rp 500.000. Pedagang di Jatinegara, bendera, kan orang-orang kita semua," kata Bodi.

Gempuran pasar daring menjadi penyebab utama tergerusnya pendapatan pedagang fisik di Jatinegara. Banyak pembeli menuntut harga murah setara toko online tanpa mempertimbangkan kualitas bahan secara langsung.

"Itu sudah bukan kecil lagi, memang sudah sangat sedikit. Sekarang kan jualan bendera juga digempur online juga, padahal kalau di online kan mereka nggak bisa lihat ukuran atau bahan kan, ya beda harganya, kita yang murah kayak online juga jual, tapi kan beda kualitasnya, mereka maunya yang bagus tapi harga online," kata Bodi.

Ketatnya Persaingan Harga dan Risiko Kerugian

Pedagang lainnya di Jalan Bekasi Raya, Ali, baru pertama kali menggelar lapak di Jatinegara setelah delapan tahun menjadi pedagang musiman di Pamulang, Tangerang Selatan. Penjaga toko elektronik ini ditugaskan pemilik barang untuk menjaga lapak dengan sistem bagi hasil.

"Kalau jualan di sini baru tahun ini, sebelumnya di Pamulang. Kalau ambil barang setiap tahun memang di sini, kan bos di sini. Cuma tahun ini ditarik sama bos, suruh jualan saja di sini, ya saya ikut saja," ujar Ali.

Jumlah pembeli di Jatinegara diprakirakan jauh berkurang dibandingkan tahun sebelumnya. Pembeli juga kerap menawar barang hingga mendekati harga modal akibat pemusatan pedagang grosir di lokasi tersebut.

"Tadi saja ada yang tawar beli bendera backdrop Rp 65.000 per meter, padahal kita modal Rp 75.000. Kalau saya terima ya rugi Rp 10.000 per meter. Padahal sekarang kita juga nggak cari untung banyak, Rp 10.000, Rp 15.000, Rp 20.000 kita kasih.

Beda sama dulu di Pamulang, kita modal Rp 75.000 bisa jual Rp 200.000. Soalnya di sana kan nggak banyak yang jual, kalau di sini kan jatuhnya sudah grosir, bos-bos pada ngumpul di sini jadi harganya nggak bisa naik tinggi," kata Ali.

Risiko finansial menggeluti usaha musiman ini terbilang tinggi, bahkan berpotensi memicu kerugian hingga jutaan rupiah. Penjualan yang sepi pernah membuat Ali mengalami minus pendapatan.

"Pernah saya juga minus sama bos, saya pernah. Saya pernah minus Rp 1,2 juta pas jualan sebulan itu. Bukan pas jualan tahun lalu.

Tahun lalu saya masih dapat untung, tahun kemarinnya lagi juga masih dapat untung. Jadi tiga tahun yang lalu lah ya, pas 2023," kata Ali.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author