Ahli Peringatkan Konsumsi Mi Instan Berlebihan Pemicu Hipertensi

Share

Mengonsumsi mi instan secara berlebihan berpotensi memicu gangguan kesehatan serius, salah satunya adalah tekanan darah tinggi atau hipertensi. Tingginya kadar sodium atau natrium di dalam makanan praktis ini menjadi faktor risiko utamanya, seperti dilansir dari Detik Health.

Spesialis jantung dan pembuluh darah, dr Badai Bhatara Tiksnadi, MM, SpJP(K), menegaskan adanya hubungan erat antara asupan natrium tinggi dengan peningkatan tekanan darah.

"Jawabannya berpotensi (memicu hipertensi). Karena hubungan antara asupan natrium dengan tekanan darah tinggi itu cukup jelas," kata dr Badai Bhatara Tiksnadi, MM, SpJP(K).

Satu bungkus mi instan diperkirakan mengandung sekitar 1.400 mg natrium. Jumlah tersebut sudah mendekati batas maksimal konsumsi harian yang direkomendasikan, yakni sebesar 2.000 mg.

Mengingat natrium juga terkandung dalam berbagai santapan lain, akumulasi zat ini perlu diwaspadai. Kadar natrium tinggi umumnya ditemukan pada makanan olahan berasa gurih, saus, kecap, sambal, mayones, hingga menu olahan cepat saji.

Guna menekan risiko kesehatan, dr Badai menyarankan untuk memangkas takaran bumbu bawaan saat mengolah mi instan.

"Ya, jadi di bumbu yang sebungkus kecil itu yang rasanya sangat gurih dan enak, itu mengandung natrium yang sangat tinggi. Sehingga kurangi sebanyak mungkin bumbu, kalau perlu seperempat," kata dr Badai.

Penggunaan bumbu kemasan dapat diganti dengan memanfaatkan rempah-rempah alami racikan sendiri di rumah, sekaligus menghindari konsumsi produk makanan olahan secara berlebihan.

"Kalau bisa, masak sendiri di rumah dan ganti dengan bumbu atau rempah-rempah yang lain. Kemudian hindari makanan olahan," kata dr Badai.

Senada dengan hal tersebut, spesialis gizi klinis dr Diana Suganda, MKes, SpGK, menganjurkan masyarakat untuk membatasi frekuensi konsumsi mi instan agar tidak terlalu sering.

"Jarangin, misal sebulan sekali. Atau kita rebus, airnya dibuang, kita ganti pakai air lain. Terus kan mi instan isinya cuma karbo, tambahin protein jadi ada telurnya, ada sayurnya, kita potong-potong kasih sawi, kol," kata dr Diana Suganda, MKes, SpGK.

Langkah lain yang disarankan dr Diana adalah membuang air rebusan pertama dan menggantinya dengan air panas baru. Selain itu, penambahan bahan berprotein serta sayuran seperti telur, sawi, dan kol sangat dianjurkan agar asupan nutrisinya lebih seimbang.

Sebagai alternatif yang lebih sehat untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat harian, sumber pangan alami seperti nasi, kentang, maupun singkong jauh lebih direkomendasikan dibanding mi instan.

"Di dalam mi instan sendiri, selain natrium juga dia adalah mi. Makanan olahan harus dihindari, termasuk mi. Jadi, sebenarnya lebih baik nasi, kentang, dan singkong sebagai sumber karbohidrat," kata dr Badai.

Ia menuntaskan bahwa bahaya utama mi instan bersumber dari dua faktor dominan, yaitu statusnya sebagai produk makanan olahan serta tingginya kandungan natrium di dalamnya.

"Jadi ada dua reason terutama, dari segi konteks olahannya dan yang kedua dari segi konteks natriumnya," kata dr Badai.

Dampak penumpukan sodium berlebih ini tidak hanya mengincar orang dengan riwayat medis tertentu, tetapi juga berisiko mengganggu kondisi individu yang sehat.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author