Petugas Damkar Kramat Jati Gugur Saat Padamkan Kebakaran TPS
Seorang petugas pemadam kebakaran bernama Andriyono gugur usai tak sadarkan diri saat memadamkan kebakaran di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) liar kawasan Kramat Jati, Jakarta Timur, pada Sabtu (1/3), sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Almarhum sempat mendapatkan pertolongan pertama di lokasi kejadian sebelum akhirnya dilarang nyawanya dan meninggal dunia di Rumah Sakit Harapan Bunda. Linda (43), istri dari mendiang Andriyono, menyampaikan percakapan terakhir bersama suaminya sebelum bertugas saat ditemui di kediamannya di Ciracas, Jakarta Timur, Senin (3/8/2026).
"Pada pagi itu, dia makan bareng sama anak lakinya. Terus dia mau jalan kerja, dia marahin saya, 'Jangan berangkat kerja, Neng'. Saya dilarang kerja.
Tapi saya tetap kerja. Saya bilang, 'kalau saya enggak kerja, gimana nanti anak-anak?', saya bilang gitu kan. Terus akhirnya dia berangkat lah," tutur Linda.
Sore harinya, Linda mendadak menerima informasi dari anak pertamanya mengenai keberadaan sang suami yang telah dilarikan ke fasilitas kesehatan.
"Saya tanya anak saya yang pertama tuh, 'Ada apaan, Bang?', kata saya. 'Ma, berkas-berkas Abi di mana?', 'Emang kenapa?', 'Abi masuk rumah sakit, Ma. Rumah Sakit Harapan Bunda'," terang Linda.
Panggilan telepon video kemudian diterima oleh Linda dari rekan kerja suaminya yang meminta dirinya untuk segera mendatangi rumah sakit tersebut.
"Ada temannya datang, sampai ke rumah. Video call, 'Bu, cepetan ya ke rumah sakit Harapan Bunda'. Tapi saya enggak dibilangin suami saya meninggal, enggak. Mungkin karena saya posisi jauh di Depok," jelas Linda.
Sesampainya di fasilitas kesehatan, Linda mendapati kenyataan bahwa sang suami telah mengembuskan napas terakhirnya.
"Saya sampai, suami saya udah dibungkus sama kain putih, suami saya udah enggak ada," ucapnya.
Sebelum insiden tersebut terjadi, korban ternyata sempat memberikan pesan khusus kepada sang istri dalam kurun waktu dua bulan terakhir.
"Dua bulan ke belakang ini ya, dia cuma satu pesannya, 'Neng, kalau saya enggak ada, jangan nikah lagi ya'. Cuman itu dia pesannya. 'Jaga anak-anak'. Tapi dua bulan ya.
Saya bilang, 'Apaan sih, bercanda ngomongnya', saya cuman ngomong gitu-gitu doang. Itu dua bulan. Tapi kalau ke sini-sininya enggak ada," ungkapnya.
Kepergian mendiang memberikan duka mendalam bagi Linda beserta ketiga anaknya, namun ia terus berusaha menguatkan diri. Mendiang yang merupakan anak bungsu dikenal kerap membagikan kisah unik selama menjalankan tugas operasional lapangan.
"Beliau ini kalau minta sesuatu, mungkin karena apa sih, dia anak bontot kan ya, istilahnya dia anak terakhir dari keluarga asli sini. Jadi kalau dia minta apa-apa tuh harus gitu," terang Linda.
Keakraban hubungan mereka juga sering diwarnai cerita seputar hobi hingga perdebatan kecil di antara keduanya.
"Kan dia hobi catur ya. Catur itu kalau beli itu kan online. 'Neng, pengin beli catur yang harganya segini', Kata saya, 'Jangan, mahal', 'Enggak ah, pokoknya mau beli', gitu ya. Kadang suka karena masalah itu suka ya ingatnya berantemnya," imbuhnya.
Semasa hidupnya, Andriyono sering menceritakan pengalaman tugas evakuasi hewan hingga barang milik warga kepada pihak keluarga.
"Pernah lagi nelepon. 'Neng, lucu nih, Neng', 'Apa?', 'Habis nyelamatin itu, ada kucing kejepit katanya', 'Kucing kejepit?', 'Iya'. 'Terus HP nyemplung. HP nyemplung di got, itu neleponnya Damkar, Neng', 'Tapi Damkar top, Neng, kata masyarakat. Damkar tuh luar biasa, nomor satu katanya', gitu," pungkasnya.