Polisi Vietnam Bongkar Penyelundupan Berlian Senilai Rp1,2 Triliun
Aparat kepolisian Vietnam membongkar jaringan penyelundupan berlian lintas negara yang telah memasukkan lebih dari 30.000 batu mulia senilai 1,5 triliun dong atau setara Rp1,2 triliun selama dua tahun terakhir hingga Agustus 2026.
Penyelidikan yang dipimpin Kepolisian Provinsi Thanh Hoa bersama Kepolisian Kota Ho Chi Minh dan Kementerian Keamanan Publik mengungkapkan bahwa berlian-berlian tersebut berasal dari India dan diselundupkan dari Hong Kong melalui jalur penerbangan komersial.
Barang haram tersebut disembunyikan di dalam bagasi, sepatu, serta pakaian kurir. Para pelaku menggunakan 11 karakter nomor seri uang kertas dolar AS sebagai kode otentikasi rahasia saat menyerahkan barang kepada penerima di bandara.
Selain menyelundupkan, beberapa lembaga penilaian diduga menghapus ukiran laser Gemological Institute of America (GIA) asli pada berlian untuk diganti dengan ukiran baru. Tindakan ini dilakukan guna menerbitkan sertifikat kualitas yang lebih tinggi dari kelas sebenarnya agar dapat dijual dengan harga mahal.
Skandal ini menyeret jaringan ritel besar seperti Saigon Jewelry Company (SJC) yang dilaporkan membeli lebih dari 3,400 batu berlian ilegal, serta anak perusahaan Phu Nhuan Jewelry (PNJ) hingga menyebabkan nilai kapitalisasi pasar PNJ merosot setengahnya.
Lebih dari 30 orang yang terdiri dari warga negara India, kurir Vietnam, perantara, hingga staf bisnis perhiasan telah ditahan oleh otoritas setempat. Dampaknya, puluhan toko perhiasan memilih tutup sementara akibat gelombang permintaan pengembalian dana dari konsumen.
Maraknya kasus manipulasi ini memicu lonjakan permintaan terhadap berlian buatan laboratorium (lab-grown diamonds) dan moissanite di pasar domestik, seperti di Pasar Vuon Chuoi, Ho Chi Minh, sebagai alternatif perhiasan yang dinilai lebih aman.
"Merek mendadak memutuskan untuk membeli berlian buatan laboratorium hanya untuk dipakai sebagai perhiasan, dan tidak bermaksud untuk menjualnya kembali seperti berlian alami," kata Thuy, pemilik toko perhiasan dan batu permata di Pasar Vuon Chuoi.
Ia menjelaskan bahwa harga batu permata sintetis tersebut dijual mulai dari 750.000 VND per batu. Guna merangsang minat pembeli di tengah krisis industri, para pedagang terpaksa memotong margin keuntungan dan memberikan diskon khusus.
"Saya benar-benar khawatir," ujar Thanh Hang, seorang pemilik toko pakaian daring yang membeli cincin berlian di Ho Chi Minh City.
Kekhawatiran masyarakat meningkat mengingat berlian di Vietnam berfungsi sebagai instrumen penyimpan kekayaan dan simbol status sosial. Menanggapi krisis ini, pihak berwenang perdagangan Vietnam menjadwalkan inspeksi skala besar terkait asal-usul dan pelabelan produk di seluruh pasar logam mulia sepanjang Agustus 2026.
"Pemerintah harus mengeluarkan kerangka kerja regulasi yang tepat untuk pasar berlian," kata Hu Zhengqin, Wakil Presiden Asosiasi Perdagangan Emas Vietnam.
Langkah pengetatan ini dinilai mendesak untuk memulihkan transparansi pasar dan kepercayaan konsumen yang merosot tajam akibat praktik kecurangan sistematis tersebut.
"Jika orang-orang menyelundupkan berlian ke Vietnam, baik dalam jumlah besar maupun kecil, mereka kemungkinan besar juga menyelundupkan barang-barang lainnya," kata Kenneth Scarratt, Wakil Presiden Federasi Perhiasan Dunia.
Ia menambahkan bahwa ini merupakan momentum bagi otoritas bea cukai dan lembaga terkait di Vietnam untuk melakukan pembenahan internal secara menyeluruh.