Polisi Selidiki Kreator Konten Inggris akibat Rekam Warga Diam-Diam
Aksi perekaman gambar secara sembunyi-sembunyi yang melibatkan perangkat kacamata pintar Meta kini berujung pada tindakan hukum. Pihak kepolisian Skotlandia resmi menggelar penyelidikan terhadap seorang kreator konten asal Inggris bernama Scott Margerison. Penyelidikan tersebut dipicu oleh aksi Margerison yang merekam warga sipil tanpa izin saat melakukan perjalanan keliling Skotlandia.
Unggahan video milik Margerison menampilkan aksi provokatif, mulai dari lontaran kata kasar kepada orang asing hingga komentar bernuansa pelecehan seksual terhadap perempuan muda, seperti dilansir dari Detik iNET. Pria berusia 42 tahun tersebut membangun basis pengikut di platform TikTok, Instagram, dan YouTube melalui nama samaran E Dobbin. Modus operandi yang kerap digunakannya adalah mendatangi orang asing di area publik untuk memulai interaksi secara acak.
Peristiwa ini menjadi sorotan tajam setelah Margerison mengunggah rekaman saat mengendarai kendaraan menuju kapal feri. Dalam video itu, ia melontarkan komentar seksual mengenai penampilan dua remaja perempuan.
Margerison kemudian keluar dari mobil van miliknya sambil mengenakan kacamata Meta berkamera tersembunyi. Ia mengajak kedua remaja tersebut beserta orang tua mereka berbicara tanpa disadari bahwa interaksi itu direkam. Insiden meresahkan lainnya berlangsung di kawasan Skye. Margerison melontarkan tuduhan adanya keberagaman yang dipaksakan di Eropa kepada seorang pemilik toko perempuan keturunan India-Sikh.
Perempuan yang telah bermukim di Skye selama 20 tahun itu merasa terintimidasi oleh postur tubuh Margerison yang tinggi besar. Ia sempat merespons secara sopan bahwa narasi tersebut merendahkan, hingga akhirnya menangis usai mendapati rekaman percakapan itu diunggah tanpa izin ke TikTok. Tindakan mengambil gambar atau video secara diam-diam menggunakan perangkat kacamata pintar dapat dikategorikan sebagai perbuatan ilegal tergantung pada situasi di lapangan. Penegakan hukum berlaku jika tindakan tersebut memenuhi unsur penguntitan, pelecehan, atau memicu rasa takut pada korban.
Secara perdata, pihak yang direkam berhak melayangkan gugatan apabila pengambilan gambar dilakukan di area yang memiliki ekspektasi privasi tinggi, seperti ruang ganti. Selain itu, regulasi perlindungan data pribadi dapat dijerat jika hasil rekaman dipergunakan untuk aktivitas komersial. "Kami mengetahui video-video yang diunggah di internet dan saat ini mengkaji konten tersebut," kata jubir kepolisian setempat.
Respons Perusahaan dan Fitur Keamanan Perangkat
Teknologi kacamata pintar saat ini mulai dipasarkan secara luas sebagai asisten AI. Perangkat ini memiliki bentuk menyerupai kacamata biasa, tetapi dibekali kamera, mikrofon, serta konektivitas internet melalui integrasi ponsel pintar.
Meta yang mendominasi pasar ini bersaing dengan produsen besar lain seperti Apple, Google, dan Samsung. Selain fungsi hiburan, teknologi ini berguna untuk membantu penyandang gangguan penglihatan mengenali objek di sekitar mereka. Namun, potensi pelanggaran privasi tetap menjadi kekhawatiran utama.
Meski kacamata Meta dilengkapi lampu indikator yang menyala saat proses perekaman berlangsung, sejumlah pengguna kerap memanipulasi fitur keamanan tersebut. Menanggapi kasus ini, pihak Meta mengonfirmasi telah menindak tegas akun milik Margerison.
"Masyarakat menggunakan kacamata kami karena alat ini benar-benar bermanfaat, mulai dari mendengarkan musik, terjemahan, hingga telepon hands-free," cetusnya yang dikutip detikINET dari BBC.
"Bagi mereka yang mengenakannya maupun orang di sekitar mereka, kepercayaan adalah hal utama. Itulah sebabnya kami membangun sistem privasi ke kacamata AI kami sejak awal desain," imbuhnya. Kepala Instagram, Adam Mosseri, mengonfirmasi adanya upaya merusak lampu indikator dengan cara mengebornya. Namun, pihak pengembang telah meluncurkan pembaruan perangkat lunak yang membuat sistem kacamata otomatis mati total jika indikator fisik tersebut rusak.