Mengenal Dampak Pengabaian Emosional pada Anak dan Cara Mengatasinya
Pengabaian emosional pada masa kanak-kanak kerap terjadi ketika seorang anak tidak memperoleh rasa aman atau dukungan emosional yang memadai dari orang tua mereka. Kondisi ini dapat membuat emosi anak menjadi sepenuhnya diabaikan atau dianggap tidak valid, baik situasi tersebut terjadi secara sengaja maupun tanpa disengaja. Dilansir dari HaiBunda, tindakan mengabaikan anak secara konsisten bisa memicu trauma emosional sekaligus menimbulkan dampak jangka panjang terhadap masa depan mereka.
"Pengabaian emosional dianggap sebagai salah satu bentuk trauma karena dapat menimbulkan dampak yang mendalam dan bertahan lama terhadap kesejahteraan emosional, serta psikologis seseorang," ujar terapis Daniel Rinaldi, MHC, seperti dikutip dari Very Well Mind.
Daniel Rinaldi menambahkan bahwa pengabaian emosional yang berlangsung secara terus-menerus mampu membentuk kondisi emosional anak hingga dewasa, serta berisiko memengaruhi harga diri dan hubungan interpersonalnya. Dikutip dari Medical News Today, pengabaian emosional oleh orang tua atau pengasuh utama dapat terlihat dalam beberapa bentuk spesifik.
Bentuk tersebut meliputi sikap dingin atau tidak responsif secara emosional, meremehkan perasaan anak seperti melarang menangis, serta kurangnya kasih sayang fisik seperti pelukan. Selain itu, kurangnya perhatian terhadap kebutuhan emosional anak serta kegagalan dalam memvalidasi pengalaman maupun emosi anak juga menjadi bentuk nyata pengabaian.
Tidak mendukung minat, bakat, atau passion anak turut dikategorikan sebagai tindakan pengabaian emosional yang dapat menghambat perkembangan rasa percaya diri mereka. Terdapat beberapa indikasi yang memperlihatkan bahwa seorang anak sedang mengalami pengabaian emosional dari orang tuanya. Tanda tersebut meliputi perubahan perilaku ekstrem seperti bersikap terlalu pasif atau agresif, serta berperilaku terlalu dewasa atau justru bertingkah seperti anak yang usianya lebih kecil.
Anak juga bisa mengalami keterlambatan perkembangan fisik maupun emosional, menunjukkan gejala depresi, sulit membentuk ikatan emosional, bahkan memunculkan pikiran untuk mengakhiri hidup pada kasus ekstrem.
Dampak Pengabaian Masa Kecil yang Terbawa hingga Dewasa
Penelitian tahun 2023 yang diterbitkan dalam jurnal Springer Nature mengkaji hubungan antara pengalaman buruk masa kanak-kanak, gaya keterikatan, dan depresi pada mahasiswa. Hasil riset membuktikan bahwa orang dewasa yang masa kecilnya mengalami pengabaian emosional cenderung sangat peka terhadap tanda penolakan dan bereaksi berlebihan saat stres. Mereka juga kerap menekan emosi negatif, kesulitan membangun hubungan baru, mengalami gejala depresi, sulit memercayai orang lain, serta mengembangkan pola keterikatan tidak aman.
"Pengabaian emosional sering kali sulit dikenali karena tidak selalu tampak secara kasat mata, bahkan oleh tenaga profesional," kata praktisi kesehatan mental dan psikoterapis Aurisha Smolarski, LMFT.
Aurisha Smolarski menyebutkan bahwa pengabaian emosional lebih sering ditandai oleh hal-hal yang tidak dilakukan oleh orang tua, bukan oleh tindakan yang mereka lakukan. Daniel Rinaldi menjelaskan kembali bahwa pengabaian emosional dapat memengaruhi kehidupan seseorang meskipun hanya terjadi satu atau dua kali.
Dampak pengabaian tersebut akan menjadi jauh lebih besar serta kompleks apabila terjadi secara berulang dalam jangka waktu yang lama. Berdasarkan data US Department of Health & Human Services, pengalaman traumatis yang berat atau berlangsung lama dapat memengaruhi perkembangan anak secara signifikan.
"Trauma dapat menyebabkan perubahan pada otak dan sistem saraf yang kemudian mengakibatkan kesulitan mengekspresikan emosi, rendahnya harga diri, serta munculnya rasa malu atau bersalah," ujar Aurisha Smolarski. Anak-anak yang mengalami trauma akibat pengabaian berisiko menghadapi masalah perilaku di rumah maupun sekolah, serta kesulitan mempertahankan hubungan sosial. Pengabaian yang lebih berat juga dapat meningkatkan risiko penyalahgunaan zat berbahaya, perilaku berisiko, serta gangguan mental jangka panjang seperti kecemasan dan PTSD.
Langkah Pemulihan dan Perbaikan Pola Asuh
Pemulihan dari trauma pengabaian emosional masa kecil merupakan proses panjang yang memerlukan dukungan profesional seperti psikolog atau konselor trauma.
Bagi orang tua yang menyadari adanya pola pengabaian terhadap anak, terdapat beberapa langkah perbaikan yang dapat segera diterapkan. Orang tua wajib mengakui pola yang terjadi dan memahami bahwa kebutuhan emosional anak sama pentingnya dengan kebutuhan fisik mereka. Mendengarkan perasaan anak tanpa menghakimi serta memberikan validasi terhadap emosi nyata yang dirasakan anak menjadi langkah krusial berikutnya.
Meluangkan waktu berkualitas bersama anak selama 10 hingga 20 menit setiap hari tanpa gangguan ponsel atau pekerjaan dapat membantu membangun kedekatan.
Menunjukkan kasih sayang secara konsisten melalui pelukan, senyuman, ungkapan kasih sayang, serta kesediaan meminta maaf saat melakukan kesalahan merupakan cara efektif untuk meminimalkan dampak buruk pada masa depan anak.