Studi CU Boulder Ungkap Cara Memprediksi Kecerdasan Bayi Sejak Usia 7 Bulan

Share

Kemampuan kognitif seseorang saat dewasa berpotensi diprediksi sejak mereka masih berusia 7 bulan. Hal tersebut terungkap dalam studi terbaru University of Colorado Boulder yang dipublikasikan pada jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), seperti dikutip dari HaiBunda. Tim peneliti memantau 500 keluarga dengan anak kembar identik maupun fraternal sejak usia 7 bulan, 9 bulan, 1 tahun, hingga memasuki usia 30-an.

Pengamatan terhadap anak kembar ini dilakukan untuk memisahkan pengaruh faktor genetik dan lingkungan bersama di rumah, tempat tinggal, serta sekolah. Hasil riset menunjukkan bahwa lingkungan pada awal kehidupan, terutama sebelum anak menginjak usia 3 tahun, memberikan dampak signifikan yang bertahan lama. Faktor lingkungan awal ini menyumbang sekitar 10 persen dari perbedaan IQ antarindividu saat dewasa.

Evaluasi kemampuan kognitif bayi dilakukan melalui beberapa tolok ukur spesifik. Peneliti memantau metode novelty preference atau durasi perhatian pada mainan baru, vokalisasi suara atau ocehan, serta visual expectation dalam mengikuti pergerakan objek.

Meskipun tes pada rentang usia 7 hingga 9 bulan baru memprediksi sebagian kecil skor IQ dewasa, angka prediksinya naik menjadi 20 persen saat anak berusia 3 tahun. Akurasi prediksi ini terus meningkat pesat pada rentang usia 7 hingga 16 tahun seiring makin kuatnya pengaruh genetik. Penulis utama penelitian, Daniel Gustavson, PhD, menegaskan bahwa besarnya kontribusi genetik tidak berarti kapasitas intelektual anak bersifat kaku. Setiap individu tetap memiliki ruang untuk belajar dan mengasah keterampilan baru sepanjang hidupnya.

Dukungan lingkungan dan interaksi aktif dari orang tua memegang peranan krusial dalam mengoptimalkan potensi tersebut. Psikolog Sara Douglas, PsyD, EdM, menjelaskan bahwa IQ merupakan kapasitas yang mencakup ragam kemampuan, sehingga perlu dipahami secara menyeluruh. Pengenalan pengalaman baru secara bertahap dapat membantu merangsang daya pikir anak. Orang tua disarankan membiarkan bayi mengeksplorasi beragam tekstur, pola visual, variasi suara, serta berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya secara aman.

Dokter spesialis anak, Heather Gosnell, MD, menekankan pentingnya meluangkan waktu minimal 30 menit setiap hari untuk berinteraksi langsung. Aktivitas sederhana seperti membacakan buku, mengajak mengobrol, dan bermain bersama menjadi fondasi penting bagi proses belajar serta perkembangan otak. Stimulasi fisik juga bisa dilakukan dengan membuat rintangan sederhana menggunakan bantal, kardus, atau tumpukan buku di rumah.

Meminta bayi merangkak melewatinya dapat melatih keterampilan motorik, navigasi, memori, dan koordinasi tangan-mata. Penerapan rutinitas harian yang teratur turut memberikan rasa tenang dan kepastian bagi anak. Kebutuhan emosional yang terpenuhi dengan baik ini menunjang tumbuh kembang serta kecerdasan akademik anak dalam jangka panjang.

Selain itu, penggunaan peralatan rumah tangga seperti kaleng biskuit bekas sebagai alat musik rakitan dapat melatih sensorik pendengaran. Aktivitas mengetuk dan menghasilkan bunyi ini efektif merangsang saraf otak Si Kecil.

Perkembangan setiap anak memiliki ritme yang berbeda-beda. Keterlambatan bicara atau durasi perhatian yang pendek pada usia dini tidak selalu menandakan adanya gangguan kognitif permanen. Sebagian besar anak yang mengalami keterlambatan bicara mampu mengejar ketertinggalannya pada rentang usia 4 hingga 7 tahun. Hal ini berlaku selama pemahaman bahasa anak tetap baik dan aspek perkembangan lainnya berjalan normal.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author