Respons Bijak Orang Tua Saat Anak Menyalahkan Mereka Menurut Psikolog
Ucapan menyakitkan dari anak seperti tuduhan bahwa orang tua menjadi penyebab kondisi mereka sering kali memicu rasa bersalah hingga amarah. Penanganan yang salah pada fase awal dapat memperkeruh situasi hubungan keluarga.
Dilansir dari HaiBunda, psikolog anak, remaja, dan keluarga Jeffrey Bernstein Ph.D. menjelaskan bahwa respons dalam 60 detik pertama sangat menentukan. Orang tua kerap membeku lalu memilih meminta maaf atau justru membela diri.
"Kata-kata 'kamu menghancurkan hidupku' atau ungkapan menyakitkan serupa, dapat menghancurkan hati kita sebagai orang tua. Pada saat itu, orang tua cenderung membeku dan secara otomatis memberikan salah satu dari dua respons yang gagal. Mereka cenderung meminta maaf atau justru memperkuat pertahanan mereka," kata Bernstein.
Ia menambahkan bahwa kedua sikap tersebut tidak mampu meredakan ketegangan. Ada beberapa langkah komunikasi yang lebih efektif untuk menghadapi luapan emosi anak.
Langkah awal yang perlu dilakukan adalah mengakui rasa sakit yang sedang dialami anak. Pendekatan ini membantu menenangkan emosi tanpa harus langsung membantah argumen mereka.
Orang tua bisa menyampaikan ungkapan seperti, "Kamu terdengar sangat kesakitan dan menderita. Ceritakan semuanya ke Bunda/Ayah ya."
"Respons seperti ini menunjukkan bahwa orang tua dapat merasakan rasa sakit anak-anaknya tanpa perlu segera memperbaiki atau membantahnya. Banyak anak yang sudah dewasa tidak sedang menguji rasa bersalah orang tuanya. Mereka justru sedang menguji apakah orang tuanya dapat tetap hadir," ungkap Bernstein.
Beri Ruang pada Kemarahan
Kemarahan kerap menjadi cerminan dari rasa takut akan terputusnya hubungan. Mengakui emosi tersebut secara tenang membantu membangun kembali komunikasi yang konstruktif.
Orang tua dapat merespons dengan kalimat, "Aku dengar kamu benar-benar marah padaku."
Setelah suasana lebih tenang, ajak anak untuk berdiskusi dingin. Penawaran untuk berbicara secara baik-baik membantu kedua belah pihak mencapai kondisi emosional yang lebih stabil.
Ubah Pola Pikiran Menjadi Pelatih
Sikap menyalahkan yang berlebihan sering memicu rasa bersalah berkepanjangan pada orang tua. Siklus ini perlu dihentikan dengan menggeser peran dari pemecah masalah menjadi pelatih.
Pernyataan seperti, "Aku percaya kamu dapat mengatasi ini, dan aku masih di sini," menegaskan dukungan tanpa harus menanggung seluruh kesalahan atas kehidupan anak.
"Seorang pemecah masalah mungkin akan berkata, 'Izinkan saya memperbaiki ini untukmu'. Namun ketika orang tua mengatakan sesuatu seperti, 'Aku percaya kamu dapat mengatasi ini, dan aku masih di sini', itu sama saja seperti orang tua beralih ke pola pikir yang lebih efektif," kata Bernstein.