Melati Suryodarmo Buka SIPFest 2026 Lewat Pertunjukan Tari Orfeous
Koreografer Melati Suryodarmo membuka gelaran Salihara International Performing-arts Festival (SIPFest) 2026 di Komunitas Salihara, Jakarta, pada Sabtu (1/8/2026) malam. Pementasan tari kontemporer berjudul Orfeous yang diadaptasi dari sajak karya Goenawan Mohamad menjadi penampil pembuka acara tersebut, sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Pertunjukan tari yang pernah dipentaskan pertama kali pada 2019 ini kini dibawakan oleh para penari generasi kedua yang berasal dari kalangan Gen Z. Latar belakang penari baru tersebut membawa dimensi serta warna tersendiri dalam pengolahan gerak panggung.
Koreografer pertunjukan menjelaskan perbedaan karakter penari generasi baru ini saat merespons karya.
"Sekarang ini adalah Gen Z, generasi kedua. Spiritnya juga beda. Secara teknis mereka mampu mengikuti tapi dengan interpretasi yang sudah berbeda," ungkap koreografer Melati Suryodarmo di Komunitas Salihara.
Proses kreatif tarian ini melibatkan pemaknaan mendalam dari para penari terhadap karya yang dibawakan.
"Kami meraga, bukan memperagakan. Orfeous awalnya diajak Mas Goen, karena Mas Goen menginterpretasikan Orfeous dari unsur mitologi Yunani, saya dari kecil suka dunia pewayangan banyak mendengar kisah Mitologi Yunani juga, dengan mitologi Jawa juga, cara pemaknaan semacam penceritaan simbol dan psikologi manusia ada filsafat yang tersembunyi juga," ungkap Melati.
Penggarapan bentuk tarian disesuaikan dengan dinamika latar waktu yang diangkat dalam alur cerita.
"Melati pun membuat tafsir akan sajak Goenawan Mohamad soal Orfeous dengan penggabungan antara bayangan, hasrat, ilusi atas realitas yang terjadi di masa lalu dan masa sekarang," ucapnya.
Mitologi Orfeous berakar dari kisah tragis Yunani Kuno pada 530 Sebelum Masehi. Cerita berpusat pada tokoh Orfeous yang berusaha membujuk para dewa untuk menghidupkan kembali kekasihnya, Euridice, namun usahanya gagal karena melanggar syarat untuk tidak menengok ke belakang.
Melati yang berpengalaman belajar di Jerman di bawah bimbingan Anzu Furukawa dan Marina Abramovic membawa konsep pementasan ini keluar dari sekadar genre romantis. Gerakan lambat yang ditampilkan dirancang untuk membentuk ruang panggung dari kombinasi bunyi dan respons tubuh.
"Orfeous di tubuh para penari ini membawakan kerentanan kita sebagai manusia, yang kadang dilemahkan sendiri dan dirisaukan dengan masa lalu. Jadi memang gerakan pelan, basic dari tari. Pelan bukan dipelan-pelankan, karena ruang terbentuk oleh bunyi dan tubuh penarinya," katanya.
Penulis sajak yang diadaptasi turut memberikan tanggapan atas penyajian karya pementasan tersebut.
"Tafsir Aga dan Melati sangat mengena pada saya, yang diolah lagi. Sangat menyentuh dan bisa menjadi sentimentil. Tapi Sri Hanugaraga bisa melepaskan yang sentimentil itu," tukasnya.
Pentas tari Orfeous karya Melati Suryodarmo dijadwalkan kembali tampil pada Minggu (2/8/2026).