Gempa Magnitudo 7,1 Guncang Kumamoto Jepang Tewaskan 36 Orang
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,1 mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang, pada Selasa (28/7/2026) dan mengakibatkan sedikitnya 36 orang meninggal dunia hingga Sabtu (1/8/2026). Musibah ini memicu tim penyelamat menghentikan operasi pencarian di pusat perbelanjaan yang runtuh di kota Kashima setelah seluruh korban hilang ditemukan.
Badan Meteorologi Jepang (JMA) mencatat gempa dangkal berkedalaman 10 kilometer ini memicu guncangan kuat hingga skala intensitas 6 bawah. Kondisi tersebut memicu ledakan akibat kebocoran gas di Aeon Mall Kumamoto yang merubuhkan lantai dua bangunan, serta merubuhkan cerobong asap pabrik kertas Nippon Paper Industries di Yatsushiro.
Sebanyak tujuh jenazah ditemukan di bawah reruntuhan mal, sementara sembilan pekerja pabrik kertas dipastikan tewas terperangkap. Selain merenggut puluhan nyawa, gempa tersebut membakar dan menghancurkan lebih dari 180 rumah, merusak hampir 3.500 bangunan, serta melukai 103 warga di Kumamoto.
Pemerintah setempat mengonfirmasi bahwa pasokan air bersih terputus ke 70.000 rumah warga di tengah cuaca panas ekstrem yang mencapai 36,6 derajat Celsius. Lebih dari 9.000 pengungsi kini memadati pusat komunitas dan gimnasium sekolah, sedangkan sebagian warga memilih tidur di dalam mobil karena keterbatasan fasilitas penampungan.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menegaskan komitmen pemerintah untuk mempercepat penanganan bencana dan distribusi bantuan ke lokasi pengungsian.
"Air, makanan, dan kebutuhan lainnya, termasuk toilet portabel, serta pendingin udara dan sekat, sedang dikirim untuk memperbaiki kondisi di pusat-pusat evakuasi," kata Takaichi.
Upaya pemulihan terus difokuskan pada penyediaan fasilitas sanitasi guna mencegah timbulnya masalah kesehatan lanjutan bagi para korban terdampak.
"Pemerintah bertekad untuk melakukan segala yang kami bisa," kata Takaichi.
Berdasarkan analisis Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), gempa Kumamoto dipicu oleh pergeseran mendatar pada patahan dangkal. Fenomena ini berbeda dengan mekanisme gempa megathrust Palung Nankai yang diprediksi para ahli memiliki peluang terjadi sebesar 60 persen hingga 90 persen dalam 30 tahun mendatang.