Politikus Spanyol Tuduh AS dan Israel Terlibat Krisis Migran di Ceuta
Krisis yang melibatkan ribuan migran ilegal dari Maroko menyerbu wilayah kantong Spanyol, Ceuta, memicu ketegangan diplomatik. Politikus Spanyol menuding adanya keterlibatan Amerika Serikat dan Israel dalam masalah ini, menurut laporan dari Detikcom.
Ketegangan ini muncul setelah Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, dan Menteri Transportasi Spanyol, Oscar Puente, saling memberikan sindiran terkait isu migrasi ilegal di Ceuta. Hubungan Spanyol dan Israel sedang memanas akibat konflik Gaza, Palestina.
Danon menuduh Spanyol sering mengkritik Israel dan menyebut Spanyol telah mendeklarasikan keadaan darurat di Ceuta akibat krisis migrasi.
"Spanyol, yang tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menggurui Israel, telah mendeklarasikan keadaan darurat di Ceuta menyusul krisis terkait kebijakan imigrasinya," ujar Danon.
Danon juga menyinggung wilayah Ceuta dan Melilla sebagai kantong kolonial Spanyol di Afrika.
Puente merespons dengan menyatakan, "Yah, semuanya tampaknya menjadi cukup jelas." Pernyataan ini dipandang sebagai tanggapan atas kritik Danon di tengah debat politik Spanyol mengenai krisis migrasi dan peran Israel secara regional.
Pengamat politik Carolina Alonso menuding Israel berupaya melemahkan pemerintah Spanyol sebagai balasan atas sikap Madrid terhadap perang di Gaza. Alonso juga mengaitkan dukungan Israel dan Maroko dalam upaya menangguhkan keanggotaan Spanyol di wilayah Schengen.
Alonso menambahkan bahwa kunjungan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez ke Aljazair merupakan langkah penting setelah hubungan memburuk sejak 2022 terkait Sahara Barat. Ia juga menuduh Amerika Serikat berusaha memperluas pengaruhnya atas Selat Gibraltar melalui krisis migrasi ini.
Anggota parlemen Gabriel Rufián dari Partai Kiri Republik Catalonia menggemakan tuduhan bahwa krisis migrasi melayani kepentingan AS dan Israel. Ia mengajak untuk mencapai konsensus nasional dalam menghadapi masalah tersebut.
Hubungan Spanyol dan Israel memburuk sejak perang Gaza Oktober 2023. Spanyol termasuk negara Eropa yang paling vokal mengkritik kampanye militer Israel, mengakui Negara Palestina sejak Mei 2024, dan menyerukan gencatan senjata serta akses kemanusiaan ke Gaza.
Duta Besar Israel untuk Spanyol, Dana Erlich, menyatakan memantau situasi di Ceuta dan menegaskan bahwa komentar Danon tidak mewakili posisi resmi Israel.
"Komentar yang dibuat oleh Duta Besar Israel untuk PBB mengenai masalah ini tidak mewakili posisi Negara Israel," kata Erlich.