Pengakuan Influencer Emily Mai Jalani Poliamori dengan 6 Pasangan
Gaya hidup poliamori yang dijalani oleh influencer berusia 35 tahun, Emily Mai, belakangan ini memicu perdebatan hangat di kalangan publik. Sorotan tajam mengarah kepadanya lantaran wanita tersebut secara terbuka mengungkapkan pengalaman ekstremnya menjalin asmara dengan enam orang secara bersamaan. Dilansir dari Wolipop, pengakuan blak-blakan ini mematahkan banyak asumsi umum, terutama ketika ia menegaskan bahwa percikan rasa cemburu tetap membayangi kehidupan asmaranya meskipun ia membebaskan para kekasihnya dekat dengan wanita lain.
Keputusan berani untuk tidak menganut sistem monogami ini ternyata dilandasi oleh alasan pragmatis terkait pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Sang influencer merasa enggan membebankan seluruh ekspektasi keintiman, baik secara fisik maupun ikatan emosional, hanya ke pundak satu individu saja.
"Menjadi poliamori berarti kamu tidak membebankan semua kebutuhan dan keinginan kepada satu pasangan. Tekanan itu bisa sangat berat untuk kedua belah pihak," ujar Emily, seperti dikutip dari Where Is The Buzz.
Menjalani komitmen dengan banyak orang secara bersamaan tentu membawa kerumitan tersendiri. Komunikasi lantas diwajibkan sebagai fondasi utama yang sama sekali tidak bisa ditawar. Setiap pihak yang terlibat diharuskan membicarakan secara transparan mengenai batasan pribadi, ketertarikan terhadap figur baru, hingga kebutuhan spesifik masing-masing individu.
Lebih lanjut, tokoh internet ini dengan tegas menepis anggapan keliru yang menyebut bahwa pelaku poliamori kebal terhadap api cemburu. Ia menekankan bahwa emosi negatif tersebut adalah respons yang sangat wajar dan kerap kali tersulut oleh perasaan tidak aman dari dalam diri sendiri.
"Rasa cemburu itu sangat normal. Biasanya muncul karena rasa tidak aman," ungkapnya.
Sebagai gambaran nyata, Emily lantas membagikan sebuah insiden kurang menyenangkan yang pernah dialaminya. Suatu ketika, salah satu pasangannya mendadak pergi meninggalkannya di tengah keramaian sebuah pesta demi bermesraan dengan orang lain. Walaupun sedari awal semua pihak sudah memaklumi status hubungan terbuka mereka, ia mengaku tetap merasa tersinggung dengan tindakan tersebut dan akhirnya memutuskan untuk menyelesaikannya lewat diskusi terbuka.
Mengelola waktu untuk banyak kekasih jelas bukan perkara mudah bagi sang influencer. Pada fase kehidupannya yang paling sibuk, ia harus membagi perhatian kepada enam pasangan sekaligus, yang rekam jejak asmaranya tidak hanya terdiri dari individu lajang, melainkan juga melibatkan pasangan suami istri. Guna mencegah benturan jadwal kencan, ia sangat bergantung pada ketelitian mencatat di aplikasi kalender agar semua komitmen asmara dapat terpenuhi secara adil.
"Semua jadwal masuk kalender. Kalau sudah membuat janji, saya akan menepatinya," tuturnya.
Demi menghindari keributan asmara yang tidak perlu, langkah preventif selalu ia terapkan setiap kali berkenalan dengan orang baru. Ia mewajibkan dirinya untuk membeberkan status poliamorinya sejak masa pendekatan awal. Berdasarkan pengalamannya, menjalin hubungan dengan seseorang yang masih memegang teguh prinsip monogami hanya akan memicu rentetan konflik akibat perbedaan ekspektasi yang fatal.
Fakta lain yang tak kalah mengejutkan dari penuturannya adalah soal eksistensi perselingkuhan dalam hubungan ganda. Banyak yang mengira kebebasan tanpa batas dalam poliamori meniadakan konsep selingkuh, namun Emily memiliki pandangan berbeda. Seseorang dalam lingkaran asmaranya akan langsung dicap berselingkuh apabila terbukti menyimpan kebohongan atau sengaja menyembunyikan jalinan asmara tertentu dari pandangan pasangan lainnya.
"Kalau ada yang diam-diam atau berbohong, itu tetap bisa disebut selingkuh. Pada akhirnya semua kembali ke komunikasi," katanya.