Hujan Meteor Perseid Puncaki Langit Agustus Bersamaan Bulan Baru
Hujan meteor Perseid dijadwalkan mencapai puncak aktivitasnya pada 12 hingga 13 Agustus 2026, bertepatan dengan fase bulan baru. Fenomena astronomi ini menghadirkan kondisi langit yang sangat gelap sehingga meningkatkan visibilitas pengamatan dari bumi.
Pengamat di wilayah Uni Emirat Arab berpeluang menyaksikan hingga 100 meteor per jam saat puncak terjadi. Minimalnya cahaya bulan memungkinkan meteor yang redup sekalipun dapat terlihat dengan mata telanjang dari lokasi yang bebas polusi cahaya perkotaan.
Khadijah Al Hariri dari Dubai Astronomy Group menilai fenomena tahunan ini sebagai salah satu yang paling andal. Karakteristik utama Perseid meliputi kilatan cahaya yang cerah, pergerakan cepat, serta kemunculan bola api (fireball) secara berkala.
"Paling andal," kata Khadijah Al Hariri dari Dubai Astronomy Group.
Grup astronomi tersebut menjelaskan bahwa lintasan cahaya Perseid berasal dari sisa-sisa debu dan es Komet Swift-Tuttle. Material berukuran sekecil butiran pasir tersebut terbakar saat memasuki atmosfer bumi pada kecepatan tinggi.
"Tidak lebih besar dari butiran pasir," kata Dubai Astronomy Group.
Puncak pengamatan terbaik berlangsung mulai tengah malam tanggal 12 Agustus hingga waktu fajar pada 13 Agustus. Pengamat disarankan berada di area terbuka seperti gurun serta memberi waktu sekitar 20 hingga 30 menit agar mata beradaptasi dengan kegelapan.
Sebelum puncak Perseid di bulan Agustus, langit malam pada akhir Juli 2026 juga dihiasi oleh puncak dua hujan meteor lainnya, yaitu Southern Delta Aquariids dan Alpha Capricornids. Berdasarkan laporan Forbes yang mengutip American Meteor Society (AMS), kedua fenomena tersebut puncaknya terjadi pada Kamis malam, 30 Juli 2026.
American Meteor Society mendefinisikan hujan meteor sebagai peristiwa celestial ketika sejumlah meteor terlihat memancar dari satu titik pusat di langit malam.
"Sejumlah meteor yang teramati memancar, atau berasal, dari satu titik di langit malam yang disebut Radiant," kata AMS.
Southern Delta Aquariids mampu menghasilkan hingga 25 meteor per jam, terutama terlihat jelas dari belahan bumi selatan. Sementara itu, Alpha Capricornids cenderung menghasilkan jumlah meteor yang lebih sedikit, yaitu sekitar tiga per jam, namun memiliki intensitas cahaya yang jauh lebih terang.
Michelle Nichols dari Adler Planetarium Chicago menyarankan masyarakat untuk mengamati fenomena ini tanpa menggunakan alat bantu optik. Penggunaan teleskop atau teropong justru dapat membatasi cakupan pandangan di langit.
"Meteor shower is best seen with naked eyes during a dark sky," kata Michelle Nichols, astronom dari Adler Planetarium.
Pengamatan pada akhir Juli sempat menghadapi tantangan akibat cahaya Bulan Purnama (Buck Moon) yang masih mencapai tingkat kecerahan 98 persen. Bob Lunsford, koordinator laporan AMS, membagikan trik khusus untuk mengurangi kesilauan cahaya bulan tersebut.
"Menghadap ke arah utara dengan bulan di belakang Anda, sehingga cahaya bulan langsung tidak memengaruhi penglihatan malam Anda," kata Bob Lunsford, koordinator laporan di AMS.
Rangkaian fenomena ini berlanjut hingga pertengahan Agustus, di mana Dubai Astronomy Group telah menjadwalkan acara pengamatan bersama masyarakat di Gurun Al Khatim, Abu Dhabi, mulai pukul 23.00 waktu setempat pada 12 Agustus 2026.