Trump Manfaatkan Krisis Migran Ceuta untuk Sindir Demokrat
Jajaran pejabat Partai Republik yang dipimpin Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengritik tajam krisis migran di Ceuta, Spanyol, untuk menyerang Partai Demokrat menjelang pemilu sela mendatang. Pemerintah AS menilai gelombang kedatangan puluhan ribu migran ilegal di perbatasan Afrika Utara tersebut sebagai gambaran ancaman keamanan nasional jika kebijakan imigrasi pihak lawan politiknya diterapkan. "Itu mengerikan.
Ingatlah gambar tersebut. Seperti itulah nasib kita dalam tiga tahun ke depan jika pihak yang salah berkuasa," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Trump menekankan bahwa stabilitas publik di Amerika Serikat bakal terancam apabila kontrol pemerintahan berpindah tangan dalam waktu dekat.
"Jika Partai Demokrat yang berkuasa, Anda tidak akan memiliki kehidupan yang sangat baik," ucap Donald Trump, Presiden Amerika Serikat. Pernyataan serupa kembali ditekankan mantan pengusaha tersebut dalam rapat kabinet di Camp David, Maryland, pada Jumat (31/7/2026), sembari memperingatkan bahaya bencana migrasi di pesisir AS.
"Saya melihat situasi Spanyol kemarin, dan saya menyaksikan bencana yang terjadi di sana," ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat. Ia mengklaim bahwa kelemahan kontrol perbatasan dapat memicu masuknya massa dalam jumlah yang lebih besar di kawasan Amerika Utara.
"Itu tampak seperti sebuah invasi ke suatu negara oleh ratusan ribu orang, dan hal yang sama akan terjadi pada kita jika Partai Republik tidak terpilih, bahkan lebih buruk dan dalam skala yang jauh lebih besar," ucap Donald Trump, Presiden Amerika Serikat. Senada dengan Presiden, Wakil Presiden AS JD Vance turut membagikan tayangan berita krisis migran Ceuta melalui media sosial X untuk memprotes kebijakan kelompok politik kiri. "Gambar-gambar dari Spanyol ini menjadi pengingat yang menyedihkan akan konsekuensi dari migrasi massal," sebut JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat.
Di sisi lain, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menuding otoritas lokal Spanyol memicu terjadinya penyeberangan massal tersebut akibat kebijakan imigrasi yang longgar.
"Insiden yang tidak dapat diterima ini merupakan akibat langsung dari upaya sengaja pemerintah Spanyol untuk memungkinkan dan memfasilitasi migrasi ilegal massal ke Eropa," demikian pernyataan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. Laporan Reuters dan Anadolu Agency mencatat lebih dari 50.000 migran sempat memasuki wilayah perbatasan Ceuta sebelum sebagian besar kembali ke Maroko. Otoritas setempat mengonfirmasi sedikitnya 57 jenazah ditemukan di sisi perbatasan Spanyol akibat tenggelam dan terhimpit bebatuan pemecah gelombang.