Pesawat Ryanair Mengalami Insiden Jendela Pecah di Udara
Ljubisa Karović, seorang penumpang penerbangan Ryanair rute Thessaloniki menuju Memmingen, nyaris terhisap keluar setelah jendela akrilik pesawat pecah akibat hantaman pecahan mesin pada 10 Juli. Pria berusia 61 tahun asal Serbia tersebut berhasil diselamatkan setelah diseret kembali ke dalam kabin oleh istrinya, Svetlana Grković, bersama dua penumpang lain, sebagaimana dilansir dari Detik Travel.
Penyelidikan awal menunjukkan bahwa pesawat Boeing 737 berusia 18 tahun tersebut mengalami penurunan tekanan udara secara mendadak hingga harus melakukan pendaratan darurat. Badan Keselamatan Transportasi Nasional AS (NTSB) tengah melakukan investigasi atas peristiwa yang mirip dengan insiden penerbangan Southwest Airlines pada 2016 dan 2018 tersebut, dengan laporan awal yang dijadwalkan terbit dalam 28 hari.
Menanggapi insiden tersebut, pihak manajemen Ryanair menegaskan bahwa armada udara tetap menjadi moda transportasi paling aman. Kepala Petugas Keuangan Grup Ryanair Neil Sorahan menyampaikan pembelaannya terkait keandalan armada yang mereka operasikan.
"Secara harfiah telah ada ratusan juta penerbangan dengan pesawat Boeing 737 ini di seluruh dunia sejak pertama kali dibuat," kata Neil Sorahan, Kepala Petugas Keuangan Grup Ryanair.
Sorahan menambahkan bahwa pihak maskapai telah menjalin komunikasi dengan keluarga korban, meski penentuan ganti rugi masih menunggu hasil investigasi resmi. Maskapai juga telah menurunkan tim untuk mendampingi proses penyelidikan yang sedang berlangsung.
"Mereka akan melakukan investigasi independen secara menyeluruh. Kami berpartisipasi penuh. Kami memiliki orang-orang di lapangan yang secara aktif terlibat dalam membantu," ujarnya.
Di sisi lain, Chief Executive Officer (CEO) Ryanair Michael O'Leary membeberkan temuan awal terkait penyebab kerusakan teknis pada mesin pesawat tersebut saat menyampaikan laporan keuangan kuartal April-Juni.
"Indikasi awal menunjukkan bahwa tampaknya ada kerusakan akibat benda asing pada mesin saat lepas landas di Thessaloniki, tetapi kami belum memiliki bukti, kami belum dapat mengatakan itu secara pasti," katanya.
O'Leary juga memastikan bahwa mesin dari pesawat yang terlibat dalam insiden tersebut sebenarnya telah menjalani proses servis dan perbaikan secara menyeluruh dalam dua tahun terakhir.