Alumnus IPDN Terpilih Jadi Student Orator Wisuda University of York
Muhammad Afandi Angkotasan, alumnus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Angkatan 29, terpilih sebagai student orator dalam wisuda S2 Administrasi Publik di University of York, Inggris, pada Jumat, 17 Juli 2026, seperti dilansir dari Detikcom.
Lulusan beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) tersebut menyisihkan ratusan kandidat lain melalui seleksi ketat di tingkat departemen sebelum akhirnya dipercaya menyampaikan pidato kelulusan resmi di hadapan sivitas akademika.
Prestasi tersebut menarik perhatian Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto yang menyampaikan apresiasi langsung secara daring kepada Afandi melalui panggilan video.
"Berita membanggakan alumni IPDN jadi student orator di York University. Ini katanya alumni IPDN angkatan 29," ungkap Bima Arya Sugiarto, Wakil Menteri Dalam Negeri.
Dalam dialog tersebut, Afandi membeberkan proses seleksi ketat yang harus dilaluinya untuk meraih posisi tersebut di tingkat kampus.
"Student orator itu dia diseleksi setiap departemen. Pada saat terakhir pada pengumuman itu, saya dikasih info itu ada ratusan," ungkap Muhammad Afandi Angkotasan, alumnus IPDN.
Wamendagri juga memuji kelancaran bahasa Inggris Afandi yang diasah sejak masih menempuh pendidikan kedinasan.
"Alhamdulillah kurikulum di IPDN tuh banyak mendukung saya belajar bahasa Inggris," beber Afandi.
Afandi membagikan metode latihannya selama menjadi praja untuk membangun rasa percaya diri saat berbicara bahasa asing.
"Sebenarnya saya berlatih sedari di IPDN, berlatih tipis-tipis lah istilahnya. Saya biasanya sambil jalan terus saya ngomong sendiri tapi pas ada orang saya stop," ungkap Afandi.
Prinsip hidup gigih itu ditanamkan Afandi berdasarkan ajaran dan tradisi dari tanah kelahirannya di Maluku Tengah.
"Dari kecil kebetulan saya di kampung. Saya selalu percaya bahwa, walaupun sesulit apa pun, saya akan tetap berusaha untuk masa depan saya," tegas Afandi.
Atas capaian ini, pemerintah menyambut baik rencana kepulangannya ke Tanah Air untuk menyelesaikan kewajiban pengabdian alumni LPDP.
"Saya tunggu begitu kamu datang ke Jakarta langsung ke kantor ya, kita ngobrol ya," kata Bima Arya Sugiarto.
Dalam tayangan ulang wisuda di kanal YouTube University of York, Afandi membuka pidatonya dengan mengutip pepatah bahasa Hatuhaha dari kampung halamannya, Negeri Pelauw.
"Di desa saya, orang tua dan para tetua kami mewariskan nilai-nilai dari satu generasi ke generasi berikutnya. Nilai-nilai itu berbunyi 'alumiye umie, seiya nyie inyie'. Mengingatkan kita bahwa apa yang benar-benar berarti bagi kita, akan selalu menemukan jalannya kepada kita. Apa yang menjadi milik orang lain bukanlah hak kita untuk mengajarkannya," beber Afandi.
Meski kehilangan kedua orang tuanya di usia 14 tahun, Afandi berhasil menjadi anggota keluarga pertama yang meraih gelar magister.
"Gelar ini milik orang tua saya, keluarga saya, guru-guru saya, dan semua orang yang percaya pada saya sebelum saya percaya pada diri sendiri," sampai Afandi.
Selama berkuliah di Inggris, ia merasakan toleransi tinggi dari pihak kampus dan masyarakat setempat terhadap keyakinan yang dianutnya.
"Universitas menghormati keyakinan saya dan memberi saya tempat di mana saya dapat berdoa (shalat). Momen-momen itu mungkin tanpa kecil, tetapi ketika berada ribuan mil jauhnya dari rumah, momen-momen itu sangat berarti," sampainya.
Pengalaman belajar di GB Memorial Library hingga melihat salju pertama kali membentuk sudut pandang barunya tentang arti pendidikan global.
"Selama saya berada di York, saya menemukan sebuah ungkapan yang selalu teringat di benak saya, 'berpendidikan global, berakar lokal'," jelas Afandi.
Prinsip tersebut ia maknai sebagai dorongan untuk membawa nilai kebaikan dan tanggung jawab sosial ke mana pun melangkah.
"Tetapi, ke mana pun hidup membawa kita, saya berharap kita membawa serta nilai-nilai kebaikan dan rasa tanggung jawab yang telah membentuk kita jauh sebelum kita tiba di sini. Pendidikan bukan hanya tentang mengubah hidup kita sendiri, ini juga tentang membantu mengubah orang lain," urainya.
Di akhir pidato, Afandi memperkenalkan lagu nasional Tanah Airku serta menyampaikan apresiasi kepada LPDP, dosen pembimbing, dan keluarga.
"Dan akhirnya terima kasih banyak kepada seluruh keluarga saya di desa, mereka sedang menonton siaran langsung sekarang dan untuk orang tua saya tercinta di mana pun kalian berada, saya harap kalian tersenyum hari ini," tutup Afandi.