Fenomena FOMO dan Paylater Pembelian Tiket Konser Gen Z Jadi Sorotan
Maraknya penyelenggaraan konser musik di Indonesia belakangan ini mendatangkan antusiasme tinggi dari masyarakat, terutama kalangan Generasi Z. Tren ini didorong oleh masifnya arus informasi di media sosial yang dimanfaatkan para promotor untuk menjangkau pasar secara efisien. Gaya hidup menikmati pertunjukan musik ini dilansir dari Detikcom mendatangkan perhatian dari Guru Besar Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Prof Dr Gancar Candra Premananto CI CDM QCRO AIBIZ CCC.
Ia menilai tingginya penetrasi internet di Indonesia menjadikan informasi konser cepat menyebar luas. "Indonesia menjadi pasar yang sangat potensial bagi penyelenggara konser. Pengguna internet dan media sosial yang tinggi membuat informasi mengenai konser sangat cepat menyebar.
Terutama di kalangan Generasi Z," ujarnya dalam laman Unair dikutip Sabtu (25/7/2026).
Maraknya gelombang konser juga memicu timbulnya fenomena fear of missing out atau FOMO di kalangan anak muda. Tekanan sosial untuk tidak tertinggal tren ini acap kali mendorong perilaku konsumsi yang kurang rasional.
Dampak lanjutan dari dorongan impulsif tersebut adalah maraknya pemanfaatan fitur pembayaran paylater demi mengamankan tiket konser. Langkah ini berisiko menimbulkan masalah finansial baru jika tidak diimbangi kemampuan finansial yang memadai. "Keputusan menjadi tidak rasional apabila kemampuan membayar tidak sebanding dengan besarnya utang. Kondisi tersebut bahkan dapat memicu kebiasaan menutup utang lama dengan pinjaman baru," jelasnya.
Rekomendasi Pengelolaan Anggaran Bulanan
Guna mencegah pembengkakan utang akibat keputusan impulsif, Prof Gancar membagikan formula alokasi anggaran yang aman bagi kalangan muda. Ia menekankan pentingnya perencanaan keuangan matang tanpa harus mematikan kebutuhan hiburan.
Skema anggaran yang disarankan meliputi pembagian 40 persen untuk kebutuhan pokok dan 30 persen untuk kebutuhan sosial. Selanjutnya, 20 persen dialokasikan bagi hiburan, serta 10 persen sisanya disisihkan khusus untuk tabungan atau investasi.
"Dengan perencanaan yang baik, seseorang dapat mempersiapkan keinginan menonton konser jauh-jauh hari. Sehingga tidak berubah menjadi keputusan konsumsi yang impulsif," pesannya.